EKONOMI

Cadangan Beras 4 Juta Ton Buka Peluang Emas Sektor Pergudangan di Indonesia

0
×

Cadangan Beras 4 Juta Ton Buka Peluang Emas Sektor Pergudangan di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi - Stok beras di gudang Bulog, Makassar, Sulsel. ANTARA/Nur Suhra Wardyah

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Cadangan beras Indonesia yang mencapai 4 juta ton dinilai membuka peluang besar untuk pertumbuhan sektor usaha pergudangan, terutama sebagai sarana penyimpanan pangan yang vital bagi ketahanan nasional. Demikian disampaikan oleh Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, Minggu (31/05/2025).

“Cadangan beras pemerintah yang mencapai 4 juta ton menjadi momentum penting dalam upaya pemerintah mencapai swasembada pangan,” ujar Syarifah saat dihubungi ANTARA di Jakarta.

Menurutnya, kondisi ini memberikan peluang bagi sektor pergudangan, namun gudang beras harus memenuhi standar khusus seperti suhu terkontrol, ventilasi yang baik, serta kelembaban yang stabil agar mutu beras tetap terjaga.

“Bagi pelaku pergudangan swasta yang ingin menangkap peluang ini, sangat penting untuk menyesuaikan fasilitas gudangnya dengan standar gudang pangan,” tambah Syarifah.

Ia juga menekankan pentingnya pengembangan gudang pangan terpadu yang lokasinya strategis, misalnya dekat pelabuhan dan stasiun logistik, agar distribusi pangan nasional dapat berjalan lebih efisien dan efektif.

Lebih jauh, dalam jangka panjang, jika surplus beras ini terus terjaga, Indonesia akan membutuhkan gudang penyimpanan jangka panjang serta fasilitas pergudangan untuk mendukung aktivitas ekspor beras.

Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, capaian cadangan beras 4 juta ton ini menjadi sejarah baru dalam tata kelola pangan nasional, sekaligus capaian tertinggi sejak berdirinya Perum Bulog pada 1969.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyambut capaian ini sebagai tonggak penting menuju kemandirian pangan Indonesia. “Stok beras yang melimpah ini bukan sekadar statistik, tapi hasil nyata dari kebijakan pertanian yang berpihak pada petani,” ujarnya.

Amran menambahkan, strategi penguatan produksi nasional dan optimalisasi serapan lokal di bawah arahan Presiden Prabowo terbukti efektif menjaga stabilitas pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. (rdr/ant)