AROSUKA, RADARSUMBAR.COM – Pemerintah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, menyiapkan penetapan status darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul meningkatnya kasus karhutla dalam dua bulan terakhir.
Wakil Bupati Solok, Candra, mengatakan status darurat ini penting untuk mempercepat mobilisasi sumber daya penanggulangan. Hal tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi tanggap darurat karhutla di rumah dinasnya, Minggu (20/7).
“Lebih dari 100 titik kebakaran terjadi sejak Mei hingga Juni 2025, termasuk di Bukit Junjung Sirih dan Hiliran Gumanti yang nyaris mengancam pemukiman warga,” ujarnya.
Meski sebagian besar titik api berhasil diatasi, keterbatasan personel dan armada masih menjadi kendala utama di lapangan. Candra juga mengimbau seluruh camat dan wali nagari untuk mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Ferdinal Asmin, menambahkan musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga September 2025 memperbesar risiko kebakaran. Operasional tim terbatas karena efisiensi anggaran, sehingga status darurat sangat dibutuhkan agar koordinasi dan bantuan lintas sektor lebih optimal.
Menurut Ferdinal, mayoritas kebakaran berasal dari pembukaan lahan dengan cara membakar, yang melanggar hukum.
Sementara itu, Kepala UPTD KPHL Bukit Barisan, Hendrio Fadly, menyatakan Solok telah memenuhi empat indikator penting untuk penetapan status tanggap darurat, yakni: meningkatnya intensitas kebakaran, titik api yang konsisten muncul, hari tanpa hujan yang tinggi, dan prediksi kemarau ekstrem.
“Dengan status darurat, logistik dan sumber daya manusia bisa segera dikerahkan agar bencana tidak makin meluas,” ujarnya. (rdr/ant)






