AGAM

Dua Bunga Rafflesia Tuan-Mudae Mekar Bersamaan di Agam, Catatan Pertama di Dunia

0
×

Dua Bunga Rafflesia Tuan-Mudae Mekar Bersamaan di Agam, Catatan Pertama di Dunia

Sebarkan artikel ini
Petugas BKSDA Sumbar sedang mengukur bunga rafflesia Tuan-Mudae yang mekar sempurna, Senin (14/4). Dok ANTARA/Yusrizal

LUBUKBASUNG, RADARSUMBAR.COM – Dua bunga rafflesia Tuan-Mudae mekar sempurna secara bersamaan di kawasan Cagar Alam Maninjau, tepatnya di Marambuang, Nagari Baringin, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ini menjadi pertama kalinya dalam sejarah dunia bunga jenis ini mekar bersamaan, sebuah fenomena yang belum tercatat dalam jurnal ilmiah.

Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau, Ade Putra, menjelaskan, “Ini adalah pertama kalinya bunga rafflesia Tuan-Mudae mekar secara bersamaan, dan belum ada jurnal yang mencatat kejadian ini. Bunga rafflesia Arnoldii memang sering mekar bersamaan, tetapi ini berbeda.”

Kedua bunga tersebut tumbuh dalam satu hamparan dengan jarak sekitar satu meter. Bunga pertama mekar sempurna pada hari keempat, dengan diameter 82,5 sentimeter, sementara bunga kedua baru mekar pada hari kedua dengan diameter 91 sentimeter.

“Beberapa hari ke depan, bunga ini akan memasuki fase layur atau membusuk,” tambah Ade.

Rafflesia Tuan-Mudae merupakan salah satu jenis bunga rafflesia terlangka di dunia, dengan hanya sekitar 30 individu yang diketahui ada. Di dunia, ada dua lokasi sebaran bunga ini: Sarawak, Malaysia, dan Marambuang, Kabupaten Agam, Indonesia. Bunga ini pertama kali ditemukan di Marambuang pada 2017, ketika warga setempat mencari sumber air Pamsimas.

Bunga rafflesia Tuan-Mudae dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, yang kemudian diperbarui dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024. Bunga langka ini tumbuh di kawasan Cagar Alam Maninjau, yang merupakan habitat yang dilindungi.

Sebelumnya, di lokasi yang sama, bunga rafflesia Tuan-Mudae terbesar di dunia dengan diameter 111 sentimeter pernah mekar. Bunga tersebut tercatat sebagai rekor terbesar di dunia dan terdokumentasi dengan baik.

Salah seorang mahasiswa Universitas Negeri Riau, Isma Yuliatri, mengungkapkan kekagumannya setelah melihat bunga tersebut secara langsung. “Saya terharu dan bangga bisa melihat flora langka ini secara dekat. Di kampung saya di Riau, bunga ini tidak ada,” ujar Isma. Mendapatkan informasi dari Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar, ia bersama mahasiswa lainnya langsung datang ke Palembayan, Agam. (rdr/ant)