JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menegaskan bahwa riset bukan sekadar pengeluaran negara, melainkan investasi strategis yang mampu menggerakkan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Riset adalah motor pertumbuhan ekonomi langsung. Bukan sekadar wacana, hasilnya bisa dirasakan, baik jangka pendek maupun panjang,” kata Stella dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (24/8).
Ia mencontohkan hasil riset lokal seperti daun nilam dari Aceh yang kini diekspor ke berbagai negara, serta potensi besar dari rumput laut, di mana Indonesia menjadi salah satu produsen terbesar dunia.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan manusia, namun belum optimal karena riset dan inovasi belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk menciptakan nilai tambah.
Stella menekankan pentingnya kolaborasi antara kampus dan industri, agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, melainkan sampai ke pasar dan menjadi solusi nyata.
“Kita harus bertransformasi menjadi universitas berbasis riset. Karena hanya lewat riset, lahir inovasi yang bisa menciptakan lapangan kerja dan membawa Indonesia jadi pemain global,” ujarnya.
Sebagai bagian dari langkah konkret, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi meluncurkan program Diktisaintek Berdampak, yang mendorong hilirisasi pengetahuan dan memperkuat kontribusi riset bagi masyarakat.
Program ini bertujuan mengubah paradigma perguruan tinggi dari sekadar pusat pendidikan menjadi motor penggerak pembangunan berbasis pengetahuan.
Program Diktisaintek Berdampak juga mendorong kolaborasi lintas sektor antara kampus, lembaga riset, dunia usaha, dan komunitas. Fokus utama diarahkan pada bidang strategis seperti ketahanan pangan, kesehatan, energi baru dan terbarukan dan teknologi digital.
“Riset yang berdampak adalah riset yang menyentuh masyarakat, menjawab tantangan zaman, dan membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan,” pungkas Stella. (rdr/ant)






