JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Israel menghentikan operasi militer untuk merebut Kota Gaza dan meminimalkan seluruh aktivitas militernya di wilayah tersebut setelah pihak-pihak yang bertikai sepakat menjalankan rencana perdamaian yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menurut laporan Radio Tentara Israel (Galei Tzahal), Sabtu (5/10) dini hari.
Dalam pernyataan resminya pada Jumat, Gerakan Hamas menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan pemerintahan di Jalur Gaza kepada sebuah komite Palestina berbasis konsensus nasional.
Hamas juga menyatakan komitmennya untuk membebaskan semua sandera Israel, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sesuai dengan isi rencana perdamaian tersebut.
Lebih lanjut, Hamas siap untuk mengikuti pembahasan masa depan Gaza dalam kerangka kepemimpinan bersama dengan seluruh elemen rakyat Palestina.
Menanggapi hal ini, Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan bahwa pihaknya akan segera memulai tahap pertama pelaksanaan rencana Trump, yang fokus pada pembebasan para sandera.
Berdasarkan evaluasi situasi dan hasil negosiasi dengan perwakilan Amerika Serikat, para pimpinan politik Israel memberikan instruksi kepada Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk mengurangi operasi militer di Gaza seminimal mungkin, dan hanya melakukan tindakan bersifat defensif.
“Langkah ini secara efektif berarti penghentian operasi militer untuk merebut Gaza,” tulis Radio Militer Israel dalam laporannya.
Situasi ini dinilai sebagai perkembangan signifikan dalam konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas, dan dapat membuka jalan bagi proses perdamaian yang lebih luas di kawasan. (rdr/ant)






