BERITA

Mengenal Neuropati Perifer: Penyebab dan Gejala

1
×

Mengenal Neuropati Perifer: Penyebab dan Gejala

Sebarkan artikel ini
Mengenal Neuropati Perifer, Penyebab dan Gejala
youtube.com

RADARSUMBAR.COM – Kerusakan pada sistem saraf tepi atau sering disebut sebagai neuropati perifer bisa dialami oleh siapa saja. Kerusakan saraf perifer menimbulkan gejala, tetapi sebagian besar orang masih mengabaikannya, sehingga hanya dianggap sebagai gejala karena kelelahan saja. Itulah mengapa, penting bagi kita untuk memahami neuropati perifer: penyebab dan gejala yang mungkin terjadi.

Jenis Neuropati Perifer: Penyebab dan Gejala

Neuropati perifer merupakan kondisi yang disebabkan karena kerusakan pada saraf perifer atau saraf tepi. Umumnya, kerusakan saraf perifer ini dialami oleh usia 55 tahun ke atas.

Berdasarkan pada tingkat kerusakan sarafnya, neuropati perifer dibedakan menjadi dua, yakni mononeuropati dan polineuropati. Mononeuropati merupakan kerusakan pada saraf tepi tunggal atau hanya terjadi pada satu saraf perifer saja.

Kondisi ini terjadi karena berbagai macam faktor, seperti kecelakaan, cedera fisik, hingga saraf yang mendapatkan tekanan terlalu lama. Aktivitas yang berulang dalam jangka waktu lama, juga dapat menjadi pemicu mononeuropati.

Sedangkan polineuropati adalah kerusakan yang terjadi pada beberapa saraf perifer. Bila kita bandingkan dengan mononeuropati, orang-orang lebih sering mengalami polineuropati.

Polineuropati menyebabkan saraf perifer pada seluruh tubuh tidak berfungsi secara bersamaan. Gangguan saraf ini rentan terjadi pada penderita diabetes.

Pada dasarnya, neuropati perifer menunjukkan penyebab dan gejala yang umum. Supaya bisa memberikan tindakan lebih cepat dan tepat, mari pelajari tentang penyebab dan gejala neuropati perifer.

Penyebab Neuropati Perifer

Mengingat neuropati perifer bukanlah penyakit tunggal, kerusakan saraf dapat disebabkan karena beragam kondisi. Salah satunya adalah terjadinya infeksi.

Infeksi ini bisa karena bakteri atau virus. Seperti virus Epstein Barr, kusta, penyakit Lyme, hepatitis B dan C, herpes zoster, hingga HIV. Penyebab lainnya bisa karena gangguan sumsum tulang belakang.

Gangguan sumsum tulang ini meliputi protein abnormal dalam darah, limfoma, suatu bentuk kanker tulang atau myeloma, dan amyloidosis. Selain itu, neuropati perifer juga dapat terjadi karena gangguan bawaan seperti penyakit charcot marie tooth.

Beberapa penyakit yang dapat mempengaruhi kerusakan saraf perifer yakni penyakit hati, gangguan pada jaringan ikat, penyakit ginjal, hingga tiroid yang kurang aktif atau hipotiroidisme.

Sedangkan faktor risiko neuropati perifer antara lain, penyalahgunaan alkohol, paparan racun, kekurangan vitamin B, hingga adanya riwayat keluarga.

Gejala Neuropati Perifer

Ketika terjadi kerusakan pada saraf perifer, akan menimbulkan beberapa gejala umum. Seperti mati rasa yang terjadi secara bertahap, sensitivitas ekstrim ketika menerima sentuhan, kurang koordinasi dan sering terjatuh.

Kemudian, merasakan tusukan atau kesemutan pada bagian kaki atau tangan. Hal ini bisa menyebar hingga ke atas kaki dan tangan. Munculnya rasa sakit seperti terbakar atau beku dan berdenyut.

Jika saraf otonom mengalami gangguan, maka penderitanya akan memperlihatkan gejala tidak tahan terhadap panas, perubahan keringat, kandung kemih dan sistem pencernaan bermasalah, serta perubahan tekanan darah yang mengakibatkan kepala terasa ringan atau pusing.

Pengobatan Neuropati

Metode pengobatan neuropati perifer berdasarkan tingkat kerusakan saraf. Dokter bisa saja menyarankan tindakan pengobatan yang ringan.

Seperti menerapkan pola hidup sehat hingga memiliki istirahat yang berkualitas. Namun, beberapa pasien harus menjalani pengobatan topikal, mengonsumsi obat-obatan atau anti kejang, menerapkan terapi fisik, hingga pembedahan. Pengidap neuropati perifer bisa mengonsumsi vitamin yang mengkombinasikan vitamin B1, vitamin B6 dan vitamin B12.

Itulah tadi informasi tentang neuropati perifer: penyebab dan gejala. Jika mengalami gejala neuropati perifer, ada baiknya untuk segera mengkonsultasikannya ke dokter. Dengan begitu, bisa segera mendapatkan penanganan dan pengobatan yang tepat.