JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Pemerintah Indonesia resmi melepas ekspor perdana sebanyak 2.280 ton beras premium bermerek BeFood Nusantara ke Arab Saudi pada Rabu (4/3) untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia pada musim haji 1447 Hijriah.
Pengiriman dilakukan melalui kawasan pergudangan milik Perum Bulog di Sunter Timur, Jakarta. Ekspor ini menjadi tonggak baru dalam ekosistem ekonomi haji nasional dengan menghadirkan beras lokal berkualitas tinggi bagi jemaah di Tanah Suci.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Badan Pangan Nasional, serta Perum Bulog. Langkah ini diharapkan membuat jemaah haji Indonesia tidak lagi mengonsumsi beras non-Indonesia yang memiliki tekstur berbeda dengan preferensi masyarakat Tanah Air.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Jaenal Efendi menyebut pengiriman ini sebagai momentum yang telah lama dinantikan.
“Alhamdulillah ini adalah pecah telur. Selama bertahun-tahun kita menunggu bagaimana bisa ekspor beras ke Saudi, khususnya untuk jemaah haji. Selama ini jemaah kita makan beras non-Indonesia yang mungkin berbeda dengan lidah masyarakat kita,” ujar Jaenal.
Ia menambahkan banyak jemaah Indonesia tidak terbiasa mengonsumsi nasi berbahan beras basmati yang umum digunakan di Timur Tengah.
Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan kualitas beras yang dikirim masuk kategori super premium yang diproses langsung dari hasil panen terbaru petani di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Menurut dia, beras tersebut memiliki tingkat pecahan di bawah lima persen serta kadar air di bawah 14 persen.
“Beras yang diolah berasal dari panen baru, bukan dari stok lama di gudang. Setelah dipanen langsung dikeringkan dan diolah menjadi beras premium dengan tingkat pecahan sekitar empat persen,” katanya.
Produksi beras untuk ekspor tersebut melibatkan sejumlah fasilitas pengolahan besar, antara lain pabrik di Serang, Mojokerto, Karawang, dan Subang.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan ekspor ini menunjukkan ketahanan stok pangan nasional yang saat ini mencapai sekitar 3,7 juta ton per Maret 2026.
Menurut Amran, jumlah tersebut merupakan stok terbesar yang pernah dimiliki Indonesia pada periode Maret.
Ia juga menepis keraguan publik mengenai kemampuan ekspor Indonesia di tengah dinamika global.
“Ini aksi nyata, bukan ilusi. Ekspor pertanian di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia meningkat signifikan, sekitar 30 hingga 44 persen,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Abdul Haris yang menilai langkah tersebut membuka peluang pasar potensial bagi produk pertanian Indonesia di luar negeri.
Hal senada disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri yang berharap ekspor ini menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kualitas beras Indonesia kepada masyarakat internasional, khususnya di Arab Saudi. (rdr)





