PADANG, RADARSUMBAR.COM – Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melaporkan aktivitas Gunung Marapi di Sumatera Barat masih menunjukkan pola fluktuatif berdasarkan hasil pemantauan terbaru.
“Berdasarkan evaluasi data pemantauan dalam dua minggu terakhir, aktivitas Gunung Marapi secara umum masih menunjukkan pola fluktuatif,” kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria melalui keterangan tertulis yang diterima di Padang, Kamis.
Evaluasi tersebut merupakan hasil pemantauan aktivitas Gunung Marapi yang berada di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar untuk periode 16–28 Februari 2026.
Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi, dinamika suplai fluida atau magma dari kedalaman masih memungkinkan terjadinya erupsi.
Namun, selama tidak terjadi peningkatan suplai magma yang signifikan, potensi bahaya diperkirakan masih berupa lontaran material pijar dan abu vulkanik di sekitar pusat aktivitas dengan jangkauan utama dalam radius tiga kilometer dari Kawah Verbeek.
“Jika terjadi erupsi, abunya berpotensi mengganggu saluran pernapasan dan penerbangan yang penyebarannya mengikuti arah serta kecepatan angin,” kata Lana.
Selain itu, material erupsi yang bercampur dengan bahan rombakan dapat memicu lahar atau banjir lahar ketika terjadi hujan, terutama di lembah atau bantaran sungai yang berhulu langsung dari puncak Gunung Marapi.
Di area kawah atau puncak gunung juga terdapat potensi bahaya gas vulkanik beracun, seperti karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), dan hidrogen sulfida (H2S).
Saat ini Gunung Marapi masih berada pada Level II atau Waspada. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan agar masyarakat, wisatawan, maupun pengunjung tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas atau Kawah Verbeek.
PVMBG juga mengingatkan potensi ancaman lahar dingin, terutama bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Marapi, khususnya saat terjadi hujan.
Selain itu, apabila terjadi hujan abu, masyarakat diimbau menggunakan masker penutup hidung dan mulut guna menghindari gangguan pada saluran pernapasan. (rdr/ant)





