JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Indonesia mulai mengimpor minyak mentah (crude) dari Amerika Serikat secara bertahap sebagai bagian dari pengalihan impor dari Timur Tengah, kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia.
“Sekarang sudah mulai berjalan. Bertahap, ya, bertahap,” ujar Bahlil usai acara buka bersama di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Bahlil menjelaskan impor minyak tidak bisa dilakukan sekaligus karena keterbatasan kapasitas penyimpanan (storage). Indonesia berencana menambah kapasitas storage dari maksimal 25–26 hari menjadi 90 hari (3 bulan) sesuai standar internasional, untuk menjaga ketahanan energi di tengah ketegangan Timur Tengah.
Pemerintah sudah mendapat investor untuk pembangunan storage di Sumatera. Saat ini proyek sedang menjalani studi kelayakan sebelum konstruksi, yang ditargetkan dimulai tahun ini.
Langkah ini juga menjadi respons terhadap konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Serangan AS dan Israel ke sejumlah target di Iran pada akhir Februari, termasuk klaim kematian Ayatollah Ali Khamenei, memicu balasan rudal Iran ke Israel dan fasilitas militer AS. Kondisi ini berpotensi mengganggu perdagangan minyak global melalui Selat Hormuz, yang menangani sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia, termasuk ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.
Bahlil menegaskan pembangunan storage dan pengalihan impor minyak ini penting untuk menjamin “survival” energi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global. (rdr/ant)





