JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, memastikan meninggalnya seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bengkulu Utara bernama Fatih tidak berkaitan dengan konsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Penegasan itu disampaikan setelah hasil uji laboratorium yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan tidak ditemukan bakteri E. coli maupun cemaran berbahaya seperti boraks, formalin, nitrit, arsen, dan sianida dalam sampel makanan MBG yang diperiksa.
“Informasi yang beredar dan mengaitkan kematian korban dengan dugaan keracunan MBG tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Fatih belum memakan menu MBG dari SPPG Giri Kencana ketika diketahui pingsan sebelum dibawa ke rumah sakit,” kata Nanik saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
BGN menyampaikan duka cita atas wafatnya Fatih serta mengimbau masyarakat tidak berspekulasi dan menunggu informasi resmi berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, korban diketahui mengalami pendarahan otak yang terdeteksi melalui pemindaian CT scan di RS Bhayangkara. Kondisi tersebut mengharuskan Fatih dirujuk ke RS Tiara Sella untuk menjalani operasi bedah saraf.
Sebelumnya, Fatih sempat mendapatkan penanganan awal di RS Lagita Ketahun. Namun, karena kondisi kesadaran korban menurun dengan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) 6 yang mengindikasikan cedera otak berat dan mengancam jiwa, ia dirujuk ke sejumlah rumah sakit lain.
Setelah beberapa rumah sakit di Bengkulu hingga Padang dihubungi namun fasilitas Pediatric Intensive Care Unit (PICU) penuh, korban akhirnya dirawat di RS Bhayangkara. Hasil CT scan menunjukkan adanya pendarahan otak sehingga diperlukan tindakan lanjutan.
Fatih meninggal dunia sekitar 12 jam setelah menjalani operasi bedah saraf di RS Tiara Sella.
Nanik menambahkan, dari sekitar 1.800 penerima manfaat MBG pada hari yang sama, tidak terdapat laporan gangguan kesehatan serupa.
“Dari 1.800 penerima manfaat, tidak ada laporan kejadian serupa. Hanya satu kasus ini, dan secara medis ditemukan adanya pendarahan otak,” ujarnya. (rdr/ant)





