KESEHATAN

Penyakit Diabetes Melitus dan Keterkaitannya dengan Puasa

1
×

Penyakit Diabetes Melitus dan Keterkaitannya dengan Puasa

Sebarkan artikel ini
Taklshow tentang diabetes bersama Dokter spesialis penyakit dalam Semen Padang Hospital (SPH), dr. Mutia Faurin, SpPD. (dok. istimewa)
Taklshow tentang diabetes bersama Dokter spesialis penyakit dalam Semen Padang Hospital (SPH), dr. Mutia Faurin, SpPD. (dok. istimewa)

PADANG, RADARSUMBAR.COM – Penyakit Diabetes Melitus merupakan salah satu penyakit yang perlu diperhatikan dengan seksama bagi pasiennya sebelum melaksanakan ibadah puasa. Lalu bagaimana cara menjaga kesehatan bagi pasien ini jika menjalankan ibadah puasa?

Dokter spesialis penyakit dalam Semen Padang Hospital (SPH), dr. Mutia Faurin, SpPD, mengatakan, diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah akibat kekurangan insulin atau kerja insulin yang tidak optimal.

Advertisement

“Saat berpuasa, terjadi perubahan pola makan, tidur, dan aktivitas yang dapat memengaruhi kadar gula darah, sehingga pasien diabetes perlu perhatian dan persiapan khusus,” katanya saat Podcast bersama Radio Classy FM Padang.

Ia mengatakan, tidak semua pasien diabetes boleh berpuasa. Pasien yang umumnya diperbolehkan berpuasa adalah penderita diabetes tipe 2 dengan gula darah terkontrol, tanpa komplikasi berat, dan dengan risiko hipoglikemia rendah.

“Sementara itu, pasien dengan gula darah tidak terkontrol, sering mengalami hipoglikemia berat, ibu hamil dengan diabetes, serta penderita komplikasi berat seperti gagal ginjal, penyakit jantung berat, atau pasca-stroke, tidak dianjurkan berpuasa,” tuturnya.

Disisi lain, dr. Mutia Faurin, SpPD juga memperingatkan risiko yang bisa terjadi saat puasa tanpa persiapan antara lain:

  • Hipoglikemia (gula darah terlalu rendah)
  • Hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi)
  • Dehidrasi
  • Perburukan komplikasi diabetes
  • Pengaturan makan saat puasa sangat penting
  • Sahur: pilih karbohidrat kompleks (nasi merah, roti gandum, ubi), protein (ikan, ayam, telur, tahu, tempe), sayuran, lemak sehat (alpukat, kacang), serta cukup minum air.
  • Berbuka: lakukan secara bertahap, mulai dari air putih dan kurma atau buah rendah gula, kemudian konsumsi obat, lalu makan utama dengan prinsip piring seimbang (¼ karbohidrat, ¼ protein, ½ sayur). Hindari makan berlebihan dan batasi makanan tinggi gula.
  • Camilan setelah tarawih diperbolehkan dalam jumlah wajar dan jenis sehat (buah, yogurt rendah gula, roti gandum).
  • Pengaturan obat disesuaikan oleh dokter sebelum Ramadan. Obat diminum saat sahur dan berbuka, dengan penyesuaian dosis bila diperlukan. Pasien dianjurkan berkonsultasi terlebih dahulu sebelum memutuskan berpuasa.
  • Olahraga tetap boleh dilakukan dengan intensitas ringan hingga sedang, seperti jalan santai atau bersepeda, sebaiknya menjelang berbuka atau 1–2 jam setelah berbuka. Hindari olahraga berat dan jangan memaksakan diri.

Secara umum, puasa dapat memberikan manfaat bagi pasien diabetes jika dikelola dengan baik, seperti membantu penurunan berat badan dan memperbaiki pola makan. Namun, pasien harus memahami tanda bahaya kadar gula rendah atau tinggi dan segera membatalkan puasa bila muncul gejala tersebut.

Pesan utama dari dr. Mutia Faurin, SpPD yakni:

  1. Konsultasi sebelum Ramadan
  2. Jaga pola makan dan minum
  3. Konsumsi obat sesuai anjuran
  4. Pantau gula darah secara rutin
  5. Tidak memaksakan diri karena dalam agama terdapat keringanan bagi orang sakit
  6. Dengan persiapan dan pengawasan medis yang tepat, pasien diabetes tetap dapat menjalani puasa dengan aman dan nyaman.

(rdr)