HEADLINELIGA 1

Evaluasi Menyeluruh Semen Padang FC, Tumpulnya Lini Depan Jadi Alarm Bahaya

16
×

Evaluasi Menyeluruh Semen Padang FC, Tumpulnya Lini Depan Jadi Alarm Bahaya

Sebarkan artikel ini
Sayap Semen Padang FC Maicon de Souza berusaha melewati Frengki Missa. (dok. istimewa)
Sayap Semen Padang FC Maicon de Souza berusaha melewati Frengki Missa. (dok. istimewa)

BOLA, RADARSUMBAR.COM – Kekalahan telak 0-4 yang dialami Semen Padang FC saat bertandang ke markas Bhayangkara Presisi Lampung FC di Stadion Sumpah Pemuda Way Halim, Bandar Lampung, Selasa (24/2/2026) menjadi alarm keras bagi Kabau Sirah.

Hasil tersebut bukan sekadar soal skor akhir, melainkan rangkaian momen krusial yang sangat memengaruhi jalannya pertandingan. Dua gol tuan rumah yang lahir dari titik penalti pada menit ke-27 dan menit ke-50 menjadi titik balik tekanan bagi tim tamu Kabau Sirah.

Advertisement

Situasi makin rumit ketika gelandang Boubakary Diarra harus meninggalkan lapangan pada menit ke-35 usai menerima kartu kuning kedua. Bermain dengan 10 orang sejak babak pertama jelas mengubah peta permainan.

Dalam kondisi tertinggal dan kalah jumlah pemain, Semen Padang dipaksa bertahan lebih dalam dan sulit mengembangkan skema menyerang. Tekanan demi tekanan dari tuan rumah tak mampu diantisipasi secara maksimal.

Secara performa, Bhayangkara memang tengah dalam tren positif. Hingga pekan ke-23, mereka sukses menyapu bersih dua laga tandang sebelumnya dengan kemenangan atas Persebaya Surabaya dan Persik Kediri. Artinya, kekalahan di Lampung juga tak lepas dari konsistensi lawan yang sedang menanjak.

Namun demikian, disiplin permainan menjadi catatan penting. Banyaknya kartu kuning yang diterima pemain Kabau Sirah menunjukkan persoalan kontrol emosi dan pengambilan keputusan di lapangan. Dalam situasi tertekan, ketenangan justru menjadi elemen yang paling dibutuhkan.

Di sisi lain, tumpulnya lini depan juga belum terjawab. Guillermo Hernandez belum juga mencatatkan namanya di papan skor, sementara Diego Mauricio baru menyumbang gol melalui penalti.

Meski kontribusi gol datang dari lini kedua dan bahkan pemain belakang, peran striker tetap krusial sebagai ujung tombak tim. Dengan sebelas laga tersisa, peluang untuk keluar dari zona berbahaya masih terbuka.

Evaluasi menyeluruh—baik dari aspek taktik, disiplin, hingga ketajaman lini depan—menjadi kunci jika Semen Padang ingin menjaga asa bertahan di kompetisi.

Ujian berikutnya sudah menanti saat Kabau Sirah menjamu PSIM Yogyakarta di Stadion H. Agus Salim. Bermain di kandang sendiri harus menjadi momentum kebangkitan.

Dukungan publik Padang tetap ada, namun jawaban sesungguhnya kini berada di dalam lapangan: mampukah Kabau Sirah menjadikan kekalahan ini sebagai titik balik, bukan awal keterpurukan? (rdr)