BUKITTINGGI, RADARSUMBAR.COM – Pemerintah Kota (Pemko) Bukittinggi mengklarifikasi kebijakan relokasi Pasa Pabukoan (Pasar Takjil) di kawasan Belakang Balok, Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh (ABTB), yang kini disterilkan dari pedagang kaki lima selama Ramadhan.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, lokasi yang berada dekat rumah dinas Wali Kota itu tidak lagi diizinkan menjadi tempat berjualan takjil. Kebijakan tersebut menuai beragam respons dari masyarakat.
Situasi sempat memanas setelah terjadi cekcok antara Kepala Satpol PP dan seorang anggota DPRD Bukittinggi. Peristiwa itu terekam warga dan viral di media sosial.
Camat ABTB, Hendra Eka Putra, menjelaskan bahwa penutupan Pasa Pabukoan di Belakang Balok merupakan hasil keputusan bersama yang berawal dari aspirasi warga setempat.
“Keputusan ini berawal dari permintaan warga Belakang Balok yang merasa keberatan karena aktivitas pasar berdampak pada kenyamanan lingkungan. Mereka meminta Pemkot mengalihkan Pasa Pabukoan ke lokasi lain,” kata Hendra di Bukittinggi, Senin (23/2).
Ia menyebutkan, aspirasi tersebut disampaikan oleh perwakilan warga mulai dari Ketua RT, RW, pemuda, lurah hingga LPM sejak akhir 2025.
Menurutnya, kebijakan sterilisasi itu telah disepakati seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan mengacu pada Perda Nomor 2 Tahun 2004 tentang Ketertiban Umum (Trantibum), guna menghindari pembiaran pelanggaran aturan.
Pemko, lanjut Hendra, tetap menyediakan sejumlah lokasi alternatif bagi pedagang takjil di pusat kota. Beberapa titik yang disiapkan antara lain Jalan Perintis Kemerdekaan, Simpang Stasiun, Lapangan Kodim, serta area yang difasilitasi pengurus Masjid Birugo.
Khusus di Lapangan Kodim, lokasi tersebut sejak awal Ramadhan menjadi salah satu pusat relokasi Pasa Pabukoan favorit di Bukittinggi. Puluhan hingga ratusan pedagang takjil berjualan di sana, dilengkapi arena bermain anak.
Pemko berharap aktivitas perekonomian masyarakat tetap berjalan maksimal selama Ramadhan dengan tetap mematuhi kebijakan yang telah ditetapkan.
“Pemerintah tidak berniat menutup ruang usaha pedagang. Namun karena keputusan ini lahir dari aspirasi warga, mari bersama menjaga ketertiban dan kenyamanan kota. Insya Allah rezeki selama Ramadhan selalu terbuka,” ujar Hendra. (rdr/ant)






