AGAM

Jelang Ramadhan 1447 H, Pedagang Perlengkapan Balimau di Agam Raup Untung

1
×

Jelang Ramadhan 1447 H, Pedagang Perlengkapan Balimau di Agam Raup Untung

Sebarkan artikel ini
Yusnani melayani pembeli perlengkapan balimau di Pasar Maninjau Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Selasa, (17/2/2026). ANTARA/Muhammad Zulfikar

LUBUKBASUNG, RADARSUMBAR.COM – Pedagang perlengkapan tradisi balimau di Pasar Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, meraup keuntungan menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.

Salah seorang pedagang, Yusnani (83), mengatakan dirinya rutin berjualan perlengkapan balimau setiap beberapa hari menjelang Ramadhan.

Advertisement

“Berjualan perlengkapan balimau ini rutin kami lakukan beberapa hari menjelang Ramadhan,” ujar Yusnani di Pasar Maninjau, Selasa.

Balimau merupakan tradisi masyarakat Minangkabau untuk menyucikan diri sebelum memasuki bulan Ramadhan. Ritual ini biasanya dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti jeruk nipis, jeruk purut, daun pandan, bunga mawar, bunga kenanga, daun nilam, hingga air mawar.

Satu bungkus perlengkapan balimau dijual seharga Rp5.000. Selain digunakan untuk tradisi balimau, perlengkapan tersebut juga kerap dipakai masyarakat saat berziarah ke makam keluarga.

“Selain untuk tradisi balimau, perlengkapan ini juga digunakan masyarakat untuk berziarah ke makam kerabat yang sudah meninggal,” katanya.

Yusnani telah berjualan perlengkapan balimau selama sekitar 30 tahun di Pasar Maninjau. Usaha musiman tersebut menjadi salah satu sumber penghidupan untuk membesarkan ketiga anaknya.

Di luar musim Ramadhan, ia sehari-hari berdagang ikan, sayur-mayur, nangka, dan kebutuhan lainnya.

Sementara itu, pembeli Rukmini mengaku sengaja datang ke Pasar Maninjau untuk membeli perlengkapan balimau sekaligus kebutuhan harian menjelang puasa.

“Umumnya masyarakat di sekitar Danau Maninjau selalu melakukan tradisi balimau menjelang Ramadhan,” ujarnya.

Menurut dia, balimau telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat yang sulit ditinggalkan. Meski tidak bersifat wajib, tradisi tersebut diyakini sebagai bentuk penyucian diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. (rdr/ant)