JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Periset dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Riset dan Inovasi Nasional, Ignasius Sutapa, mengingatkan bahwa insiden pencemaran di Sungai Cisadane akibat tumpahan zat kimia berisiko menimbulkan dampak kesehatan kronis.
Dalam keterangan di Jakarta, Minggu, Ignasius menjelaskan adanya potensi bioakumulasi dan biomagnifikasi dari residu pestisida atau metabolit yang terakumulasi dalam jaringan organisme air. Residu tersebut dapat berpindah ke predator tingkat lebih tinggi, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai tercemar.
“Risiko ini membuat pencemaran tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek kesehatan kronis,” ujarnya.
Ia menambahkan, kontaminasi dapat mengendap di sedimen dasar sungai dan menjadi sumber pelepasan racun sekunder dalam jangka panjang. Artinya, meskipun air permukaan terlihat kembali jernih, zat toksik masih dapat tersimpan di lapisan sedimen dan terlepas kembali ke kolom air dalam kondisi tertentu.
Dari sisi kesehatan publik, paparan pestisida bisa terjadi melalui kontak langsung, seperti mandi dan mencuci, maupun secara tidak langsung melalui konsumsi air baku atau ikan yang telah tercemar.
Menurut Ignasius, beberapa jenis pestisida yang bersifat neurotoksik dapat memicu gejala akut seperti mual, pusing, gangguan saraf, hingga kematian, tergantung dosis paparan.
“Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi menyebabkan gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan meningkatkan risiko karsinogenik,” katanya.
Untuk mitigasi jangka pendek, ia merekomendasikan penutupan sementara intake air baku PDAM di zona terdampak, peningkatan pemantauan kualitas air secara real-time, serta edukasi kepada masyarakat agar tidak menggunakan air sungai hingga dinyatakan aman.
Upaya netralisasi atau remediasi in-situ juga perlu dilakukan apabila sumber pencemaran telah teridentifikasi.
Ignasius menekankan pentingnya strategi jangka panjang, seperti penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran bahan berbahaya dan beracun (B3), pembangunan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air daring, serta diversifikasi sumber air baku untuk meningkatkan ketahanan air saat krisis.
Selain itu, restorasi ekosistem sungai melalui rehabilitasi zona riparian dinilai krusial guna meningkatkan kapasitas alami sungai dalam menyaring polutan.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi pemerintah serta PDAM. Jangan gunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi sampai ada pernyataan aman. Hindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak selama masa krisis,” tuturnya. (rdr/ant)






