PENDIDIKAN

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi, 61 Siswa Kelana Gelar Karya di Tengah Banjir

1
×

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi, 61 Siswa Kelana Gelar Karya di Tengah Banjir

Sebarkan artikel ini
Ujian akhir pekan kelas tari Siswa Kelana di Rumah Nan Tumpah. (dok. istimewa)
Ujian akhir pekan kelas tari Siswa Kelana di Rumah Nan Tumpah. (dok. istimewa)

Pembukaan pameran berlangsung pada 7 Februari 2026 dan dibuka oleh Gemala Ranti, Yusrizal KW, David (Kepala Taman Budaya Sumatera Barat) serta Sudirman Baron, tokoh masyarakat Kasai.

Gelar karya pertunjukan dijadwalkan pada 13–14 Februari 2026. “Kami bangga menyaksikan karya anak-anak Korong Kasai. Sejak ada Kelana Akhir Pekan, mereka memiliki kegiatan yang bermanfaat untuk masa depan,” ungkap Sudirman Baron saat pembukaan (7/2).

Advertisement

Menurutnya, program ini juga menjawab kekhawatiran banyak orang tua terkait penggunaan gawai yang membatasi ruang interaksi anak. Ia mewakili masyarakat menyatakan dukungan terhadap aktivitas positif tersebut.

Memasuki hari kelima, hujan lebat membuat air kembali naik setinggi semata kaki dan merendam lokasi pameran. Sejumlah karya yang dipajang ikut tergenang.

Ada sisi ironis ketika karya tentang banjir justru dikelilingi genangan yang nyata. Namun di saat yang sama, situasi itu memperlihatkan ketegaran yang sunyi—bukan karena ingin terlihat kuat, melainkan karena hidup memang harus terus berjalan.

“Sistem absensi ini bukan hukuman, melainkan cara menanamkan penghargaan dan tanggung jawab terhadap pilihan serta proses. Bukan hanya menghargai mentor, tetapi juga menghargai diri sendiri yang sudah berkomitmen untuk belajar,” ujar Fajry Chaniago, Manajer Program Komunitas Seni Nan Tumpah (13/2).

Kegiatan belajar dilaksanakan setiap Kamis hingga Minggu dengan mentor: Kiki Nofrijum (silek), Tenku Raja dan Desi Fitriana (musik), Olimsyaf Putra Asmara dan Yusuf Fadly Aser (seni rupa), Fajry Chaniago (teater), Mahatma Muhammad dan Karta Kusumah (menulis kreatif), Desvy Sagita R (tari), serta Srikandi Putri (wali kelas).

Mahatma Muhammad menegaskan bahwa presentasi Kelana bukanlah ajang untuk mencari siapa yang paling unggul. “Presentasi ini adalah ruang temu agar anak-anak merasa aman menunjukkan prosesnya.”

“Kelas silek, tari, musik, teater, menulis, dan seni rupa menjadi cara mereka menyapa orang tua, masyarakat Korong Kasai, serta kawan-kawan yang selama ini singgah di Sekretariat Nan Tumpah,” jelasnya.

Tujuan jangka panjang Kelana bukan untuk mencetak seniman, melainkan membentuk karakter, kepekaan sosial, dan kemampuan beradaptasi.

“Anak-anak tumbuh bersama, dan kami yang mendampingi ikut belajar. Yang ingin kami jaga sederhana: ruang yang setara, hangat, dan bisa dimasuki siapa pun tanpa takut dihakimi,” ujar Mahatma. (rdr)