PENDIDIKAN

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi, 61 Siswa Kelana Gelar Karya di Tengah Banjir

0
×

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi, 61 Siswa Kelana Gelar Karya di Tengah Banjir

Sebarkan artikel ini
Ujian akhir pekan kelas tari Siswa Kelana di Rumah Nan Tumpah. (dok. istimewa)
Ujian akhir pekan kelas tari Siswa Kelana di Rumah Nan Tumpah. (dok. istimewa)

PADANG PARIAMAN, RADARSUMBAR.COM – Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025) di Ke Rumah Nan Tumpah #10 dengan tajuk “Zona Nyaman Seni.”

Gelar karya ini berbarengan dengan pameran Silo Tigo, berlangsung selama sepekan, 7–14 Februari 2026, di Ruang Temu Nan Tumpah, Perumahan Kasai Permai, Korong Kasai, Nagari Kasang Kabupaten Padang Pariaman.

Advertisement

Melalui presentasi semester ini, Kelana Akhir Pekan merespons persoalan ekologis yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya.

Anak-anak diajak membaca realitas sekitar sebagai bagian dari proses artistik—bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya, melainkan konteks yang dapat diolah menjadi gagasan serta keterpihakan.

Sebanyak 25 anak memamerkan karya seni rupa berupa kolase, sketsa, karya tiga dimensi, hingga lukisan media air.

Material yang digunakan sebagian besar berasal dari limbah sekitar, seperti serbuk kayu dan bata, stik es krim, serta kardus styrofoam.

Turut dipamerkan pula karya tiga dimensi mix media dari Kelas Seni Rupa Kelana tahun sebelumnya yang pernah tampil dalam Kidz Biennale Indonesia 2025 di Galeri Nasional Indonesia.

Selain itu, para siswa juga membuat dan memajang karya tiga dimensi dari kaleng cat bekas sebagai bentuk dukungan dan doa bagi salah satu siswa Kelana yang mengalami kecelakaan pada pekan lalu.

Karya tersebut menjadi penanda bahwa ruang belajar ini tidak hanya tentang proses artistik, tetapi juga tentang solidaritas dan kebersamaan.

Dari kelas tari, 37 anak menampilkan Tari Kelana dan Tari Boneka. Sementara itu, sembilan siswa kelas remaja membawakan karya berjudul Ruang Tamu Swarnadwipa, yang merespons karya seni rupa Olim Syafputra dari kelompok Silo Tigo.

“Karya ini bercerita soal banjir dan galodo yang mengubah hidup banyak warga, terutama tentang kehilangan keluarga. Kami menampilkan kesedihan sekaligus semangat bangkit dari keterpurukan,” ujar Desvy Sagita R, wali kelas sekaligus pengampu kelas tari (13/2).

Di kelas musik, 24 anak menampilkan pertunjukan yang memanfaatkan limbah tutup botol plastik dan memadukannya dengan alat musik tradisi Minangkabau seperti gandang, rebana, saluang, dan talempong.

Sementara itu, siswa kelas menulis kreatif meluncurkan buku kumpulan puisi dan cerpen sebagai bagian dari capaian semester.