PADANG, RADARSUMBAR.COM – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menemukan sejumlah keunikan geologi pada fenomena sinkhole atau amblesan tanah yang membentuk lubang di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.
Ahli geologi teknik Badan Geologi Kementerian ESDM Taufiq Wira Buana, Minggu, mengatakan hasil kaji cepat menunjukkan sinkhole di kawasan tersebut termasuk kategori unik.
“Dari hasil kaji cepat yang kami lakukan, sinkhole di Situjuah ini termasuk kategori yang unik,” kata Taufiq saat dihubungi di Kota Padang.
Ia menjelaskan fenomena sinkhole di Nagari Situjuah Batua merupakan pseudokarst atau kars semu. Berdasarkan kaji cepat yang dilakukan pada 9–11 Januari 2026, Badan Geologi menemukan sinkhole tersebut terjadi pada material vulkanik (endapan gunung api) dan bukan pada batu gamping sebagaimana sinkhole pada umumnya.
“Biasanya sinkhole terjadi di batu gamping, tetapi sinkhole di Situjuah ini terjadi pada material vulkanik,” ujarnya.
Badan Geologi juga menemukan adanya sungai bawah tanah yang membentuk rongga di material vulkanik berupa tuf lapili. Mekanisme utama pembentukan rongga tersebut disebabkan oleh erosi buluh, yakni proses erosi internal yang mengikis partikel tanah dan membentuk saluran-saluran atau pipa alami di dalam tanah.
Selain itu, lubang sinkhole ditemukan terisi air dengan tampilan berwarna kebiruan. Dalam bentang alam kars, fenomena tersebut dikenal sebagai cenote. Hasil pengujian juga menunjukkan derajat keasaman air berada pada kategori agak asam hingga netral.
“Karena keunikan tersebut, Badan Geologi menamai fenomena ini sebagai Sinkhole Situjuah,” kata Taufiq.
Secara umum, terdapat dua faktor utama yang memicu munculnya sinkhole di Kabupaten Limapuluh Kota, yakni faktor air dan stabilitas tanah.
Faktor air dipengaruhi oleh suplai air yang melimpah, baik dari curah hujan maupun air tanah, yang secara terus-menerus mengikis material tanah dari dalam. Sementara faktor stabilitas tanah berkaitan dengan jenis tanah setempat berupa tuf atau abu vulkanik yang mudah tererosi.
Selain itu, keberadaan retakan-retakan di dalam tanah turut mempercepat proses erosi buluh, serta perubahan tekanan rongga bawah tanah hingga melewati ambang batas toleransi, sehingga lapisan tanah tidak lagi mampu menahan beban di atasnya dan akhirnya ambles. (rdr/ant)







