BERITA

Dari Jamu hingga Rendang, BPOM Dorong Produk Lokal Go Global

1
×

Dari Jamu hingga Rendang, BPOM Dorong Produk Lokal Go Global

Sebarkan artikel ini
BBPOM RI di Padang belum menarik obat sirop di pasaran
BPOM RI. (Foto: Ist)

PADANG, RADARSUMBAR.COM – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI hingga kini telah menerbitkan sekitar 20 ribu izin edar khusus untuk berbagai jenis produk jamu. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya potensi jamu Indonesia yang bahkan telah mendapat pengakuan di tingkat global.

“Kami sudah mengeluarkan sekitar 20 ribu izin edar khusus untuk jamu. Ini berarti jamu Indonesia sangat banyak dan sudah diakui dunia,” kata Kepala BPOM RI Taruna Ikrar saat memberikan kuliah umum di Universitas Andalas (Unand), Padang, Sumatera Barat, Jumat.

Advertisement

Taruna menyebutkan, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mendorong produk jamu buatan dalam negeri agar semakin mendunia dan berkontribusi signifikan terhadap sektor kesehatan.

“Indonesia memiliki jamu terbesar di dunia,” ujarnya.

Menurut Taruna, potensi besar tersebut perlu terus diamplifikasi atau ditingkatkan agar produk lokal mampu memberi pengaruh secara global. Ia menilai, jamu memiliki peluang serupa dengan produk khas Indonesia lainnya seperti rendang dan rempah-rempah yang telah dikenal luas di dunia internasional.

Ia mencontohkan rendang, kuliner khas Minangkabau, yang pada 2025 dinobatkan sebagai hidangan berbahan kelapa terbaik di dunia berdasarkan penilaian platform TasteAtlas. Hal itu, kata dia, menjadi bukti pengakuan dunia terhadap potensi kuliner Nusantara.

“Ini potensi besar. Ke depan bahkan bisa dikembangkan center of excellence rendang atau konsep sejenisnya,” ujar Taruna.

Selain jamu dan rendang, Taruna juga menyinggung rempah-rempah yang sejak ratusan tahun lalu telah menjadi komoditas unggulan Indonesia. Bahkan, menurutnya, Indonesia pada masa lampau diperebutkan bukan karena minyak bumi, melainkan karena kekayaan rempah-rempah.

Pada saat yang sama, BPOM terus berupaya menyelesaikan berbagai persoalan terkait rempah agar tetap menjadi produk unggulan dengan jangkauan pasar yang lebih luas.

“Kami sempat khawatir ketika BPOM Amerika menemukan kandungan zat radioaktif Cesium-137 pada cengkeh asal Indonesia. Namun seluruh permasalahan itu sudah kami selesaikan, sehingga rempah tersebut kini tidak bermasalah lagi,” kata Taruna. (rdr/ant)