NASIONAL

Dari Arsip ke Layar Lebar: Kolaborasi Indonesia–Belanda dalam Pelestarian Sejarah Visual

5
×

Dari Arsip ke Layar Lebar: Kolaborasi Indonesia–Belanda dalam Pelestarian Sejarah Visual

Sebarkan artikel ini
Festival film Roterdam. (dok. istimewa)
Festival film Roterdam. (dok. istimewa)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Kerja sama budaya antara Indonesia dan Belanda terus berkembang, tidak hanya dalam bentuk pertukaran seni, tetapi juga melalui upaya pelestarian sejarah visual yang bernilai tinggi.

Pertemuan Menteri Kebudayaan Indonesia Fadli Zon dengan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda Gouke Moes di sela International Film Festival Rotterdam (IFFR) menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi di bidang arsip, film, dan warisan budaya.

Dalam pertemuan itu, Fadli Zon bahas kerja sama budaya Indonesia Belanda. Sebagai informasi, festival film internasional tersebut menampilkan dua film pendek dan lima film panjang karya sineas Indonesia.

Kehadiran film-film Tanah Air di IFFR sekaligus memperlihatkan bagaimana sejarah, identitas, dan narasi budaya Indonesia kini semakin mendapat ruang di panggung sinema global.

Arsip Visual sebagai Memori Kolektif

Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menyoroti pentingnya pengelolaan dan pelestarian arsip sejarah, khususnya arsip visual berupa film, foto, dan dokumentasi budaya.

Arsip-arsip ini tidak hanya menjadi rekaman masa lalu, tetapi juga memori kolektif yang membentuk pemahaman masyarakat terhadap sejarah dan identitas bangsa.

Fadli Zon menekankan bahwa banyak arsip visual Indonesia tersimpan di Belanda akibat relasi sejarah panjang kedua negara.

Oleh karena itu, kerja sama dalam bentuk digitalisasi dan akses bersama dinilai krusial agar arsip tersebut dapat dimanfaatkan oleh publik, peneliti, dan generasi muda Indonesia.

“Pelestarian arsip bukan sekadar menyimpan masa lalu, tetapi juga membuka ruang dialog sejarah yang lebih adil dan inklusif,” ujar Fadli dalam pernyataan resminya, dikutip dari laman informasi digital Surat Indonesia.

Peran Lembaga Arsip dan Museum Film

Kolaborasi ini melibatkan sejumlah institusi penting, seperti Eye Film Museum dan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).

Eye Film Museum dikenal memiliki koleksi film dan arsip visual yang merekam perjalanan sinema dan sejarah kolonial, termasuk yang berkaitan dengan Indonesia.

Melalui kerja sama ini, kedua negara sepakat untuk mendorong digitalisasi arsip, restorasi film lama, serta pameran bersama yang dapat diakses lintas negara.

Langkah tersebut dinilai mampu menjembatani jarak geografis dan sejarah, sekaligus menghadirkan kembali narasi visual Indonesia ke ruang publik global.

Dari Arsip ke Layar Lebar

Upaya pelestarian arsip visual tidak berhenti pada penyimpanan, tetapi juga diarahkan untuk dihidupkan kembali melalui layar lebar.

Restorasi film-film lama dan pemanfaatan arsip sejarah sebagai sumber cerita membuka peluang lahirnya karya sinema baru yang berakar pada sejarah dan budaya.

Gagasan menghadirkan program khusus seperti “Indonesia Focus” di festival film internasional juga menjadi bagian dari strategi ini.

Program tersebut diharapkan dapat menampilkan film-film Indonesia yang terinspirasi dari arsip sejarah, sekaligus memperkuat diplomasi budaya melalui medium sinema.

Selain digitalisasi, isu repatriasi warisan budaya turut menjadi bagian dari diskusi. Pemerintah Indonesia mengapresiasi pemulangan koleksi Dubois ke Museum Nasional Indonesia dan mendorong percepatan pemulangan 37 objek Warisan Budaya Bersifat Kebendaan (WBBK), termasuk karya dan peninggalan pelukis Raden Saleh.

Menurut Fadli Zon, repatriasi memiliki makna penting dalam pemulihan sejarah seni dan identitas budaya Indonesia.
Dalam konteks arsip visual, pendekatan etis dan saling menghormati menjadi prinsip utama agar pelestarian sejarah tidak lagi berpihak pada satu narasi semata.

Ekosistem Perfilman dan Kolaborasi Kreatif

Kerja sama Indonesia–Belanda juga diperkuat melalui program SAMASAMA Lab, hasil kolaborasi Netherlands Film Fund, Kementerian Kebudayaan RI, dan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI).

Program ini mendukung pelatihan, pengembangan proyek, dan produksi bersama, sekaligus mendorong sineas kedua negara untuk mengeksplorasi arsip dan sejarah sebagai sumber kreatif. (rdr)