LUBUKBASUNG, RADARSUMBAR.COM – Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mencatat sekitar 1.428,73 ton ikan keramba jaring apung (KJA) di Danau Maninjau mati secara massal sepanjang Januari hingga Desember 2025. Kematian ikan tersebut disebabkan kekurangan oksigen di perairan danau.
“Kematian ikan sebanyak 1.428,73 ton terjadi sejak Januari sampai Desember 2025,” kata Kepala DKPP Agam Rosva Deswira di Lubuk Basung, Minggu.
Ia merinci, kematian ikan tersebar di sejumlah nagari di Kecamatan Tanjung Raya. Di antaranya Nagari Tanjung Sani sekitar 20 ton, Duo Koto 243 ton, Maninjau 242,55 ton, Koto Gadang Anam Koto 513 ton, serta Sungai Batang 410,18 ton.
Menurut Rosva, ikan-ikan tersebut berasal dari ratusan unit keramba jaring apung milik ratusan petani. Kematian ikan paling banyak terjadi pada akhir 2025, bertepatan dengan bencana banjir bandang yang melanda kawasan Danau Maninjau.
Akibat peristiwa tersebut, petani keramba jaring apung mengalami kerugian mencapai Rp35,7 miliar, dengan asumsi harga ikan di tingkat petani sekitar Rp25.000 per kilogram.
“Kerugian petani cukup besar akibat kematian ikan secara massal ini,” ujarnya.
Rosva menambahkan, pada Januari 2026 kematian ikan kembali terjadi dengan jumlah sekitar lima ton. Peristiwa itu dipicu angin kencang dan curah hujan tinggi yang menyebabkan pembalikan massa air di danau vulkanik tersebut.
Kondisi tersebut mengakibatkan sedimen sisa pakan ikan naik ke permukaan, sehingga kadar oksigen terlarut di dasar danau menurun. Akibat kekurangan oksigen, ikan naik ke permukaan dan dalam beberapa jam kemudian mati. (rdr/ant)






