JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Ramadan sering membawa perubahan besar dalam ritme keluarga. Jam makan bergeser, waktu tidur berubah, dan anak mulai bertanya tentang sahur serta puasa. Di momen ini, tak sedikit orang tua berharap anak bisa langsung berpuasa penuh, bahkan sebelum benar-benar memastikan kesiapan mereka.
Di balik niat baik tersebut, para ahli mengingatkan bahwa pengenalan puasa yang terlalu dini atau disertai tekanan justru berisiko meninggalkan jejak emosional negatif pada anak. Anak mungkin belajar bertahan, tetapi belum tentu memahami makna ibadah.
Psikiater dari National Hospital Surabaya dr. Aimee Nugroho, SpKJ, menekankan bahwa kesiapan mental anak jauh lebih penting daripada sekadar faktor usia.
“Dari sudut pandang kesehatan mental, kesiapan anak lebih penting daripada usia kronologis. Puasa sebaiknya dikenalkan sebagai proses bertahap, bukan kewajiban yang dipaksakan sejak awal,” kata Aimee kepada ANTARA, Sabtu (24/1).
Menurutnya, pengalaman pertama anak menjalani puasa akan membentuk cara pandangnya terhadap ibadah di masa depan—apakah sebagai proses bertumbuh atau sebagai tekanan yang harus ditaklukkan.
Puasa sebagai proses perkembangan, bukan ujian ketahanan
Psikolog anak dan remaja Mariska Johana H, M.Psi., memandang puasa sebagai bagian dari proses perkembangan psikologis anak, bukan sekadar latihan fisik menahan lapar.
“Pemahaman tentang puasa Ramadan pada anak perlu dilihat sebagai proses perkembangan, bukan hanya pengajaran aturan,” ujar Mariska.
Ia menjelaskan, puasa mengandung tiga aspek utama: latihan menunda keinginan, regulasi emosi, dan nilai spiritual. Ketiganya tidak bisa dipaksakan hadir secara bersamaan.
Pada usia prasekolah, sekitar tiga hingga enam tahun, anak masih berpikir konkret dan sangat dipengaruhi pengalaman emosional. Pada tahap ini, puasa tidak relevan jika diposisikan sebagai kewajiban penuh.
“Puasa lebih dipahami sebagai latihan menunggu dan belajar sabar,” kata Mariska.
Anak dapat dikenalkan pada rasa lapar sebagai sensasi sementara. Orang tua membantu anak memahami bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi, sementara nilai spiritual disampaikan dengan bahasa sederhana dan menenangkan.
Psikolog anak dan keluarga Samanta Elsener, M.Psi., menambahkan bahwa pendekatan bercerita (storytelling) sangat efektif untuk anak usia dini.
“Biasanya untuk anak di bawah enam tahun, storytelling tentang kisah nabi atau cerita Islami sangat membantu,” ujar Samanta kepada ANTARA, Senin (26/1).
Ia juga menekankan pentingnya membiasakan anak dengan ritme Ramadan, misalnya dengan ikut sahur dan berbuka meski belum berpuasa penuh.
“Walaupun anak tertidur, keterlibatan dalam rutinitas sahur dan berbuka membantu anak terbiasa dengan pola Ramadan,” katanya.
Aimee menilai pendekatan ini sejalan dengan prinsip kesehatan mental.
“Puasa parsial seperti setengah hari bisa menjadi pilihan. Yang penting, pengalaman anak divalidasi,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar orang tua tidak meremehkan keluhan anak atau membandingkannya dengan anak lain, karena kalimat bernada ancaman atau rasa malu dapat menanamkan asosiasi negatif terhadap puasa.
Memasuki usia sekolah hingga remaja
Pada usia tujuh hingga sembilan tahun, anak mulai memahami hubungan sebab akibat. Puasa dapat dikenalkan sebagai latihan mengendalikan diri dan ibadah yang bernilai.
“Anak sudah bisa memahami bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan emosi dan memperbaiki perilaku,” kata Mariska.
Nilai puasa dikaitkan dengan tindakan nyata, seperti bersabar, berbagi, dan membantu orang lain. Manfaat kesehatan diperkenalkan secara sederhana, tanpa menakut-nakuti.
Memasuki usia sepuluh hingga dua belas tahun ke atas, anak sudah mampu berpikir reflektif. Puasa dipahami sebagai ibadah yang melibatkan niat, kesadaran diri, dan tanggung jawab personal.
“Di tahap ini, anak bisa diajak berdiskusi tentang puasa sebagai latihan mengelola dorongan fisik, emosi, dan pikiran,” ujar Mariska.
Komunikasi orang tua sebagai kunci kesehatan mental
Aimee menegaskan, komunikasi orang tua menjadi faktor pelindung utama kesehatan mental anak selama Ramadan.
“Anak perlu tahu bahwa ia boleh merasa lelah dan tetap diterima,” katanya.
Orang tua disarankan mendengar tanpa menghakimi dan menggunakan bahasa empatik. Fokus diarahkan pada proses, bukan pada kesempurnaan puasa. Anak juga perlu diyakinkan bahwa nilai dirinya tidak diukur dari kuat atau tidaknya ia berpuasa.
Mariska menambahkan, media visual seperti film atau video edukatif dapat membantu anak memahami Ramadan. Aktivitas bermakna—salat bersama, bersedekah, membantu orang lain—membantu anak mengalihkan fokus dari rasa lapar ke nilai puasa itu sendiri.
Hadiah, motivasi, dan jebakan jangka panjang
Sistem hadiah masih kerap digunakan untuk memotivasi anak berpuasa. Para ahli menilai metode ini bisa dipakai dengan batasan yang jelas.
Pada usia prasekolah, reward konkret masih relevan karena cara berpikir anak yang konkret. Namun hadiah sebaiknya diberikan atas usaha, bukan semata hasil.
“Kalau puasa pertama, sebaiknya jangan langsung memberi hadiah yang terlalu mewah,” kata Samanta.
Aimee mengingatkan bahwa penggunaan reward berlebihan berisiko melemahkan motivasi intrinsik anak.
“Anak bisa belajar bahwa ibadah harus selalu dibayar dengan imbalan eksternal,” ujarnya.
Seiring bertambahnya usia, reward fisik idealnya dikurangi dan digantikan dengan dialog, refleksi, dan apresiasi verbal.
Membaca sinyal kesiapan anak
Aimee mengingatkan orang tua agar peka terhadap tanda psikologis anak yang belum siap berpuasa, seperti perubahan emosi, kecemasan berlebihan, keluhan fisik tanpa sebab medis, atau gangguan tidur.
“Ini bukan tanda anak manja. Ini sinyal bahwa beban psikologisnya melebihi kapasitas anak,” katanya.
Pendekatan yang sehat membuat anak merasa tertantang namun tetap aman. Anak boleh gagal tanpa takut, dan mau mencoba kembali. Dengan pendampingan yang tepat, puasa Ramadan dapat menjadi pengalaman belajar yang positif, bukan sumber tekanan. (rdr/ant)






