LUBUKBASUNG, RADARSUMBAR.COM – Petani padi di Jorong Kayu Pasak Timur, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, berencana beralih menanam jagung untuk memenuhi kebutuhan hidup setelah lahan persawahan mereka tertimbun lumpur dan jaringan irigasi rusak akibat bencana alam.
“Sambil menunggu perbaikan sarana irigasi, kami akan menanam jagung terlebih dahulu. Jagung lebih mudah tumbuh karena tidak memerlukan air,” kata salah seorang petani, Sudirman (65), di Jorong Kayu Pasak Timur, Minggu.
Ia mengatakan, bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada 27 November 2026 menyebabkan lahan sawah miliknya hancur. Selain tertimbun lumpur, aliran air irigasi tidak lagi berfungsi karena banyak saluran yang rusak dan dipenuhi bebatuan.
“Sawah saya seluas sekitar satu hektare sekarang rusak total. Biasanya panen padi dalam enam bulan bisa menghasilkan sekitar 75 karung, sekarang sudah tidak bisa lagi bersawah,” ujarnya.
Menurut Sudirman, jagung menjadi pilihan sementara karena tidak membutuhkan aliran air seperti padi. Selain itu, harga jagung dinilai cukup menjanjikan dan masa panennya lebih singkat.
“Harga jagung saat ini sekitar Rp5.700 per kilogram dan bisa panen dalam waktu 4,5 bulan, sedangkan padi membutuhkan sekitar enam bulan,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat membantu penyediaan bibit jagung agar para petani tetap memiliki sumber penghasilan di tengah kondisi sulit.
Sementara itu, pedagang pengumpul jagung, Doni (48), mengatakan harga jagung di tingkat petani saat ini mulai membaik dan stabil di angka Rp5.700 per kilogram.
“Sekarang sudah banyak warga yang bertanya soal harga jagung. Mereka bilang akan beralih dari menanam padi ke jagung,” ujarnya.
Bupati Agam, Benni Warlis, mengakui dampak bencana alam tersebut cukup besar. Ia menyebut sekitar 1.700 hektare lahan persawahan tertimbun material tanah, sementara sekitar 3.000 hektare lainnya terdampak akibat rusaknya infrastruktur irigasi menuju sawah.
“Banyak warga mengeluh karena mata pencaharian mereka hilang. Tentu sektor pertanian akan menjadi prioritas penanganan pemerintah,” katanya.
Ia berharap dukungan penuh dari pemerintah pusat melalui pemerintah provinsi agar pemulihan sektor ekonomi, khususnya pertanian, dapat segera dilakukan. (rdr/ant)






