TANAH DATAR

Pemkab Tanah Datar Siapkan Relokasi Sekolah dan Pesantren di Zona Rawan Tanah Bergerak

1
×

Pemkab Tanah Datar Siapkan Relokasi Sekolah dan Pesantren di Zona Rawan Tanah Bergerak

Sebarkan artikel ini
Sejumlah anak didik SD Negeri 11 Bungo Tanjuang bermain setelah melaksanakan proses belajar mengajar di tenda darurat, Jumat (23/1/2026). ANTARA/Muhammad Zulfikar

BATUSANGKAR, RADARSUMBAR.COM – Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, segera menyiapkan lahan untuk merelokasi pondok pesantren dan sekolah dasar yang terdampak tanah bergerak dan banjir bandang serta berada di dalam zona merah.

Bupati Tanah Datar Eka Putra mengatakan bangunan yang sudah terban dan berada di kawasan rawan tidak memungkinkan lagi untuk ditempati.

“Kami harus mempersiapkan relokasi. Bangunan yang sudah terban tentu tidak bisa lagi digunakan. Untuk sementara, anak-anak belajar di tenda darurat,” kata Eka Putra di Tanah Datar, Minggu.

Ia menjelaskan, bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025 menyebabkan dinding tebing di sisi kiri dan kanan SD Negeri 11 Bungo Tanjuang, Kecamatan Batipuh, mengalami longsor dan mengancam bangunan sekolah.

Untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mendirikan tenda darurat sejak awal Januari 2026. Selain itu, pemerintah juga menyediakan toilet portabel bagi siswa dan guru.

Sementara itu, sebuah pondok pesantren di kawasan Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, dinyatakan tidak lagi layak ditempati karena berada di wilayah rawan bencana.

“Ada pesantren di daerah Malalo yang sudah tidak bisa ditempati dan harus dibangun kembali di lokasi yang lebih aman,” ujar Eka Putra.

Bupati Tanah Datar bersama tim dari Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), juga telah meninjau langsung sejumlah titik terdampak tanah bergerak, termasuk di kawasan SD Negeri 11 Bungo Tanjuang.

Terpisah, guru SD Negeri 11 Bungo Tanjuang, Herna Permata Sari, mengatakan proses belajar mengajar di tenda darurat telah berlangsung sejak awal Januari 2026 menyusul beberapa ruang kelas yang terancam ambruk.

Dalam satu hari, terdapat dua kelas yang bergantian mengikuti pembelajaran di tenda darurat. Pihak sekolah juga menyesuaikan durasi jam pelajaran demi keselamatan siswa.

Ia menambahkan, polisi telah dua kali memasang garis polisi di sekitar area sekolah. Pemasangan pertama dilakukan pada akhir 2024 setelah bangunan toilet dan tempat wudu ambruk akibat hujan deras selama beberapa hari. Garis polisi kembali dipasang di sisi kanan sekolah setelah dinding tebing longsor dan menyebabkan sejumlah bangunan sekolah mengalami retak. (rdr/ant)