AGAMHEADLINE

Hunian Sementara di Palembayan Mulai Ditempati Penyintas Banjir Bandang

1
×

Hunian Sementara di Palembayan Mulai Ditempati Penyintas Banjir Bandang

Sebarkan artikel ini
Penyintas bencana sedang menyusun perlengkapan tempat tinggal di hunian sementara di lapangan sepak bola SDN 05 Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumbar, Sabtu (24/1/2026) malam. ANTARA/Yusrizal.

LUBUKBASUNG, RADARSUMBAR.COM – Sebagian besar penyintas bencana banjir bandang dan longsor di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mulai menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Lapangan Sepak Bola SDN 05 Kayu Pasak, Sabtu (24/1/2026) malam.

Para penyintas mulai memindahkan perlengkapan tempat tinggal ke huntara tersebut setelah diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, yang dihadiri Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, serta Bupati Agam Benni Warlis.

Sejak Sabtu sore hingga malam, para penyintas terlihat memindahkan kasur, peralatan memasak, kompor gas, pakaian, serta perlengkapan lainnya dari lokasi pengungsian di SDN 05 Kayu Pasak. Barang-barang tersebut diangkut menggunakan gerobak dorong maupun dipikul secara manual.

Sesampainya di lokasi huntara, mereka langsung menyusun barang-barang di dalam unit hunian yang disediakan.

“Saya mulai memindahkan kasur, alat masak, kompor gas, pakaian, dan peralatan lainnya sejak Sabtu sore. Sampai di sini langsung saya susun di ruangan,” kata salah seorang penyintas, Erna Fitrina, di lokasi huntara.

Sementara itu, anak-anak penyintas tampak bermain ceria di halaman huntara. Mereka berlarian sambil bermain mobil-mobilan dan bercengkerama, menghadirkan suasana berbeda di tengah masa pemulihan pascabencana.

Erna menyebutkan, perlengkapan tempat tinggal yang digunakan merupakan bantuan dari BNPB untuk penyintas yang menempati 117 unit hunian sementara tersebut. Malam itu menjadi malam pertama baginya dan keluarga tinggal di huntara.

Sebelumnya, ia bersama suami dan orang tuanya menumpang di rumah keluarga di Kayu Pasak setelah rumah mereka di Sawah Laweh, Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, hancur tersapu banjir bandang.

“Rumah kami habis dan hanya tersisa lantai. Saat kejadian, kami sedang berada di Kota Bukittinggi untuk membawa orang tua berobat,” ujarnya.

Penyintas lainnya, Melisa, mengatakan rumahnya di Gunggun, Nagari Salareh Aia, masuk dalam zona merah karena berada di aliran Sungai Batang Nanggang, yang menjadi pusat terjangan banjir bandang.

“Bagian depan dan belakang rumah terbawa arus banjir bandang, sehingga ditetapkan sebagai zona merah,” katanya.

Dengan adanya hunian sementara tersebut, Melisa mengaku bersyukur karena mendapatkan tempat tinggal yang cukup layak. Ia berharap ke depan pemerintah dapat merealisasikan pembangunan hunian tetap bagi para penyintas.

Bupati Agam Benni Warlis menyampaikan bahwa sebanyak 117 unit hunian sementara telah siap dan dapat ditempati masyarakat setelah diresmikan.

“Masyarakat sudah bisa menempati hunian sementara yang telah disediakan,” katanya.

Sebagai informasi, bencana banjir bandang, tanah longsor, dan banjir yang melanda Kabupaten Agam pada akhir November 2025 mengakibatkan 166 orang meninggal dunia, 36 orang hilang, 2.284 rumah rusak, 121 unit sekolah terdampak, serta kerusakan berbagai fasilitas umum lainnya.

Total kerugian akibat bencana yang melanda 16 kecamatan di Kabupaten Agam tersebut diperkirakan mencapai Rp6,51 triliun. (rdr/ant)