LUBUKBASUNG, RADARSUMBAR.COM – Pemerintah Nagari (Pemnag) Ampek Koto Palembayan, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, bersama warga melakukan penghalauan harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan menyalakan sirene mobil ambulans milik nagari setelah satwa dilindungi tersebut muncul di permukiman warga, Rabu.
Wali Nagari Ampek Koto Palembayan Roni Akmal mengatakan, perangkat nagari bersama warga mendatangi lokasi kemunculan harimau di Jorong Piladang untuk mengantisipasi potensi ancaman terhadap masyarakat.
“Perangkat nagari datang bersama mobil ambulans. Sesampainya di lokasi, sirene mobil ambulans milik nagari langsung dinyalakan untuk menghalau harimau,” kata Roni di Lubuk Basung, Rabu.
Ia menjelaskan, mobil ambulans dikerahkan setelah perangkat nagari menerima laporan dari warga yang mendengar auman harimau saat berada di kebun, Rabu (21/1) siang.
Mendengar suara auman tersebut, warga langsung meninggalkan kebun dan pulang ke rumah, kemudian melaporkan kejadian itu kepada perangkat nagari.
“Mendapatkan laporan itu, perangkat nagari bersama warga langsung menuju lokasi. Kemunculan harimau tersebut juga telah kami laporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat,” ujarnya.
Roni mengungkapkan, kemunculan harimau Sumatera di wilayah tersebut bukan kali pertama terjadi. Pada 8 Januari 2026, satwa tersebut sempat terlihat di jalan provinsi yang menghubungkan Palembayan–Palupuh dan dilaporkan mengejar seorang pedagang ikan.
Selain itu, pada 16 Januari 2026, harimau Sumatera juga diduga memangsa ternak anjing milik warga di kawasan tersebut.
“Kami telah turun ke lokasi dan menemukan jejak harimau di sekitar area kejadian,” katanya.
Sementara itu, Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar Ade Putra membenarkan pihaknya telah menerima laporan terkait kemunculan harimau Sumatera di permukiman warga Nagari Ampek Koto Palembayan.
“Setelah menerima laporan, kami langsung melakukan penanganan interaksi negatif antara harimau dan manusia. Saat ini petugas sedang dalam perjalanan ke lokasi,” ujarnya.
Ade menjelaskan, penanganan dilakukan melalui verifikasi lapangan, termasuk wawancara dengan saksi mata serta pencarian tanda-tanda keberadaan harimau seperti jejak kaki, cakaran, kotoran, dan indikasi lainnya.
Petugas juga akan memasang kamera trap (kamera jebak) serta melakukan penghalauan, tergantung hasil verifikasi lapangan.
“Penanganan akan dilakukan selama beberapa hari ke depan. Jika diperlukan, evakuasi terhadap satwa akan dilakukan,” katanya.
Ia menambahkan, BKSDA Sumbar sebelumnya telah melakukan penanganan serupa pada 8 Januari 2026, dan setelah penanganan tersebut harimau kembali ke habitatnya serta tidak lagi muncul di permukiman warga. (rdr/ant)






