JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Keluarga Muhammad Farhan Gunawan, salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), mendatangi Posko Ante Mortem Biddokkes Polda Sulawesi Selatan di Jalan Kumala, Makassar, untuk menjalani pengambilan sampel DNA.
Kepala Biddokkes Polda Sulsel Kombes Pol Muhammad Haris mengatakan, hingga Minggu, terdapat satu anggota keluarga korban yang secara aktif datang ke posko DVI untuk memberikan keterangan sekaligus pengambilan sampel DNA.
“Hari ini ada satu orang yang mendatangi posko DVI Biddokkes, memberikan keterangan hubungan keluarga dengan korban, sekaligus diambil sampel DNA-nya,” ujar Haris di Makassar, Minggu.
Anggota keluarga yang diambil sampel DNA tersebut adalah Haerul Gunawan, adik kandung korban. Pengambilan sampel dilakukan guna memastikan kecocokan DNA apabila jenazah korban ditemukan, serta mempermudah proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI).
“Jika nantinya ditemukan jasad atau bagian tubuh korban, maka akan segera dicocokkan dengan sampel DNA yang sudah diambil,” kata Haris.
Selain di Sulawesi Selatan, proses pengambilan sampel DNA juga dilakukan di daerah lain. Salah satu keluarga korban atas nama Esther Aprilita, yang merupakan pramugari pesawat ATR tersebut, telah mendatangi Biddokkes di Provinsi Jawa Barat.
“Keluarga korban di Jawa Barat juga sudah kami koordinasikan untuk diambil keterangan dan sampel DNA,” ujarnya.
Haris menambahkan, dari total 10 korban dalam kecelakaan pesawat tersebut, masih terdapat delapan korban lainnya yang belum diambil sampel DNA dari pihak keluarga.
“Kami secara aktif menghubungi dan mendatangi keluarga korban agar proses pengambilan sampel bisa segera dilakukan,” katanya.
Sebelumnya, Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro menyampaikan bahwa Rumah Sakit Bhayangkara Biddokkes Polda Sulsel telah ditetapkan sebagai lokasi identifikasi korban. Sejumlah personel DVI Mabes Polri juga telah didatangkan untuk mendukung proses tersebut.
“Sampai saat ini keluarga korban sudah hadir untuk pemeriksaan data ante mortem. Salah satunya adalah adik kandung co-pilot pesawat,” ujar Djuhandhani.
Pesawat ATR 42-500 tersebut membawa 10 orang yang terdiri dari tujuh kru pesawat dan tiga penumpang. Tiga penumpang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yakni Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal.
Sementara kru pesawat terdiri atas Captain Andi Dahananto, co-pilot Muhammad Farhan Gunawan, serta kru Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita.
Pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) itu sebelumnya dinyatakan hilang kontak di wilayah pegunungan Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, saat hendak mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada Sabtu (17/1/2026).
Hingga hari kedua operasi SAR, tim gabungan telah menemukan serpihan pesawat serta satu jenazah korban yang hingga kini masih dalam proses identifikasi. (rdr/ant)





