JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Dokter spesialis bedah umum lulusan Universitas Indonesia, dr. Franky Mainza Zulkarnain, Sp.B, mengingatkan kebiasaan duduk terlalu lama di toilet sambil bermain ponsel dapat meningkatkan risiko wasir atau ambeien.
“Pergi ke toilet untuk buang air besar (BAB) sebaiknya dilakukan saat memang sudah ingin BAB, bukan menunggu sambil memegang handphone. Ada juga yang sebenarnya sudah selesai BAB, tapi masih berlama-lama karena bermain ponsel,” ujar Franky dalam temu media di Jakarta, Senin.
Menurut Franky, gaya hidup kekinian seperti duduk terlalu lama di kloset, terutama kloset duduk, dapat meningkatkan tekanan di area anus, terlebih saat mengejan. Tekanan tinggi tersebut dapat menyebabkan pembuluh darah melebar dan memicu wasir, yakni pembengkakan atau pelebaran pembuluh darah vena di sekitar anus atau rektum bagian bawah.
Risiko wasir akan semakin tinggi bila feses yang dikeluarkan keras akibat kurangnya asupan serat, sehingga tubuh harus mengejan lebih kuat. Selain itu, orang yang malas bergerak dan terbiasa duduk dalam waktu lama juga lebih rentan mengalami kondisi tersebut.
Dari sisi usia, Franky menyebut sebagian besar pasien wasir yang ditemuinya berusia 35 hingga 50 tahun, dengan kasus lebih banyak dialami oleh laki-laki. Meski demikian, wasir tetap bisa terjadi pada usia yang lebih muda.
Faktor lain yang turut meningkatkan risiko wasir antara lain kehamilan, karena tekanan dari rahim yang membesar, serta kegemukan atau obesitas yang menambah tekanan pada pembuluh darah.
Gejala wasir yang kerap dirasakan penderita meliputi rasa gatal, nyeri, perih, hingga perdarahan saat buang air besar. Kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman sehingga menyulitkan penderita untuk duduk maupun beraktivitas normal.
Karena itu, Franky mengimbau masyarakat untuk memperhatikan pola makan dengan memperbanyak konsumsi serat serta menghindari makanan terlalu pedas atau yang banyak mengandung gas. Ia menegaskan penanganan wasir tidak selalu memerlukan tindakan operasi atau laser, karena dokter biasanya akan memantau kondisi pasien terlebih dahulu sebelum menentukan tingkat keparahan dan metode penanganan yang tepat. (rdr/ant)





