Ajrun Karim juga secara khusus menyampaikan rasa hormat dan kebanggaan kepada salah satu anggota tim relawan yang tetap berangkat menjalankan tugas, meskipun dirinya juga menjadi korban banjir di Sumatera Barat dan rumahnya hanyut diterjang air.
“Kami sangat terharu dan bangga kepada salah satu anggota tim yang berangkat dalam kondisi pribadi yang tidak mudah di saat rumahnya sendiri terdampak banjir dan hanyut.”
“Dia tetap memilih untuk mengabdi membantu saudara-saudara kita di Aceh. Ini adalah teladan nyata tentang ketulusan, keberanian, dan jiwa pelayanan yang luar biasa,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pengorbanan tersebut tidak hanya menginspirasi rekan-rekan PLN, tetapi juga masyarakat luas. “Pengabdian seperti inilah yang membuat kami yakin bahwa PLN tidak hanya kuat secara sistem, tetapi juga kuat karena orang-orang berhati besar di dalamnya,” tambah Ajrun Karim.
Selama bertugas di Aceh, para relawan terlibat dalam percepatan perbaikan jaringan, penggantian material rusak, penormalan gardu distribusi, hingga memastikan aliran listrik kembali menyala aman bagi pelanggan.
Kehadiran mereka memberi dampak langsung bagi aktivitas warga, fasilitas umum, layanan kesehatan, pendidikan, dan pusat ekonomi masyarakat.
Rasa bangga tidak hanya dirasakan institusi, tetapi juga rekan kerja, keluarga, dan masyarakat Sumatera Barat. Tim relawan ini disebut sebagai pejuang terang mereka yang memilih maju ke lokasi terdampak ketika banyak orang justru mengungsi menjauh dari bencana.
Dengan kembalinya Tim Batch 1, PLN UID Sumbar tetap melanjutkan dukungan melalui pengiriman tim lanjutan serta memastikan kesiapsiagaan personel dan peralatan bila masih dibutuhkan di wilayah terdampak. Komitmen PLN tetap sama: menghadirkan terang, keandalan, dan harapan bagi masyarakat Indonesia. (rdr)





