KESEHATAN

Terapi Nutrisi Berbasis Genetika Dinilai Potensial Tingkatkan Kesehatan

0
×

Terapi Nutrisi Berbasis Genetika Dinilai Potensial Tingkatkan Kesehatan

Sebarkan artikel ini
Menus sarapan sehat. (Ilustrasi Freepik)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Dokter Spesialis Gizi Klinik Primaya Hospital Bekasi Barat menyebut food genomics sebagai terapi nutrisi berbasis genetika yang berpotensi mendukung perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam jangka panjang.

Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Davie, mengatakan pendekatan ini memungkinkan penyusunan pola makan yang lebih personal berdasarkan kode genetik masing-masing individu.

“Food genomics dapat menjadi alat pendukung dalam menentukan pola makan yang lebih personal, sehingga berkontribusi pada perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan,” ujar dr. Davie dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat.

Food genomics merupakan terapi nutrisi berbasis genetika, di mana rekomendasi asupan disesuaikan dengan profil genetik individu. Perbedaan gen diketahui memengaruhi respons tubuh terhadap makanan, mulai dari proses metabolisme hingga potensi intoleransi terhadap zat tertentu.

Baca Juga  Waspadai Infeksi Saluran Kemih, Jangan Sepelekan Nyeri Saat Buang Air Kecil

“Tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik memengaruhi cara tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan ini bersifat sangat personal,” katanya.

Tes food genomics dilakukan melalui pengambilan sampel darah atau air liur, dengan waktu analisis sekitar satu hingga dua minggu. Hasil pemeriksaan kemudian diinterpretasikan oleh dokter gizi klinik untuk menyusun rekomendasi nutrisi personal, mencakup pengaturan makronutrien, kebutuhan vitamin tertentu seperti vitamin D, asupan lemak esensial omega-3, hingga rekomendasi aktivitas fisik.

Menurut dr. Davie, secara teori hasil nutrigenomik bersifat tetap karena faktor genetik tidak berubah. Namun, penerapannya tetap harus mempertimbangkan faktor epigenetik dan lingkungan, seperti pola hidup, tingkat stres, serta aktivitas fisik.

Baca Juga  Kemenkes Siapkan Skrining Kesehatan Mental Gratis untuk Seluruh Masyarakat Indonesia Mulai Februari

“Karena itu, diet yang berhasil pada satu orang belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain,” ujarnya.

Selain membantu menyusun pola makan, panel nutrigenomik juga dapat memberikan gambaran potensi alergi atau intoleransi makanan. Informasi ini dinilai bermanfaat untuk mencegah konsumsi makanan yang berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.

Meski demikian, dr. Davie menegaskan bahwa food genomics bukan pengganti prinsip dasar hidup sehat. Ia mengingatkan masyarakat tetap dapat memulai langkah sederhana dengan menjaga pola makan teratur, tidak melewatkan waktu makan, serta memastikan komposisi makanan yang lengkap dan seimbang. (rdr/ant)