JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap ciri-ciri anak yang terpapar paham ekstremisme melalui true crime community (TCC), komunitas daring yang kerap memuat konten kekerasan.
Juru Bicara Densus 88 AT Polri Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana mengatakan salah satu ciri awal adalah ditemukannya simbol, gambar, atau nama pelaku kekerasan pada barang pribadi anak.
“Ini bisa menjadi indikasi bahwa pelaku kekerasan tersebut dijadikan tokoh idola atau sosok yang ingin ditiru,” kata Mayndra di Jakarta, Rabu.
Ciri berikutnya, anak cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Komunitas TCC membuat mereka merasa nyaman sehingga lebih memilih menyendiri untuk mengakses konten di dalam komunitas tersebut.
Selain itu, anak mulai menirukan tokoh atau idola di komunitas true crime. Mayndra menyebut fenomena ini pernah terjadi dalam sejumlah kasus, termasuk insiden di SMAN 72.
“Dari replika senjata, unggahan media sosial, gaya berpakaian, hingga aksinya, itu merupakan bentuk cosplay pelaku-pelaku sebelumnya dari negara asalnya,” ujarnya.
Ciri lainnya adalah kegemaran mengakses konten kekerasan dan sadistis. Menurut Mayndra, konten yang dikonsumsi sudah tidak wajar dan sulit diterima secara psikologis oleh orang pada umumnya.
“Orang normal pasti tidak tega melihat kekerasan seperti itu,” katanya.
Anak yang terpapar juga menunjukkan reaksi marah berlebihan apabila gawainya diperiksa orang lain. Mereka menganggap konten yang diakses sebagai privasi dan menolak adanya pengawasan.
Ciri terakhir adalah membawa senjata tajam atau replika senjata api, bahkan ke lingkungan sekolah.
“Kerap dibawa sebagai inspirasi untuk melakukan kekerasan,” ujar Mayndra.
Densus 88 mengungkapkan terdapat 70 anak yang tergabung dalam grup true crime community dengan muatan konten kekerasan. Anak-anak tersebut tersebar di 19 provinsi, dengan jumlah terbanyak berada di DKI Jakarta sebanyak 15 orang, Jawa Barat 12 orang, dan Jawa Timur 11 orang.
Dari sisi usia, anak-anak tersebut berada pada rentang 11 hingga 18 tahun. Terhadap 70 anak itu, sebanyak 67 anak telah mendapatkan intervensi melalui asesmen, pemetaan, konseling, serta upaya pencegahan lainnya yang dilakukan Densus 88 bekerja sama dengan para pemangku kepentingan terkait. (rdr/ant)

















