JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membagikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk menghadapi peningkatan risiko penyakit pada musim hujan yang bertepatan dengan masuknya anak ke sekolah di awal tahun.
Ketua Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso menegaskan bahwa meskipun aktivitas belajar di sekolah penting bagi perkembangan anak, aspek kesehatan dan keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama.
“IDAI memahami proses belajar mengajar sangat penting bagi perkembangan sosial, emosional, dan intelektual anak. Namun, kesehatan dan keselamatan anak harus menjadi prioritas utama,” kata Piprim dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, kombinasi aktivitas sekolah yang padat, curah hujan tinggi, serta meningkatnya kelembapan dapat menciptakan lingkungan yang rentan terhadap penularan penyakit seperti influenza, diare, dan demam berdarah.
Risiko tersebut semakin perlu diwaspadai mengingat musim hujan juga berkaitan erat dengan potensi banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya.
Oleh karena itu, IDAI mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk menjaga daya tahan tubuh anak selama beraktivitas di sekolah. Langkah pertama adalah memastikan anak dalam kondisi sehat saat masuk sekolah serta melengkapi imunisasi dasar dan lanjutan sesuai usia.
Imunisasi yang dianjurkan meliputi pencegahan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin (PD3I) seperti campak, difteri, pertusis, dan influenza.
Selain itu, orang tua disarankan memberikan makanan bergizi seimbang dengan kandungan protein hewani yang cukup, memastikan asupan cairan agar anak tidak dehidrasi, serta membatasi konsumsi makanan tinggi gula dan makanan siap saji. Anak juga dianjurkan hanya mengonsumsi air matang.
Piprim juga menekankan pentingnya waktu istirahat yang cukup. Anak diharapkan tidur mulai pukul 20.00 dan paling lambat pukul 22.00 sesuai usia guna mengoptimalkan sistem imun.
Jika anak menunjukkan gejala sakit seperti demam, batuk, pilek, diare, atau tampak lemas, orang tua diminta segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan dan mengistirahatkannya di rumah hingga benar-benar pulih untuk mencegah penularan.
Dari sisi lingkungan, pencegahan dapat dilakukan dengan menerapkan 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang, serta menghindari gigitan nyamuk. Lingkungan rumah dan sekolah juga perlu dipastikan bebas dari genangan air.
Penggunaan losion antinyamuk, kelambu, atau pakaian tertutup dianjurkan untuk mencegah gigitan nyamuk. Sementara itu, untuk menghindari diare dan leptospirosis, anak perlu selalu memakai alas kaki saat bermain atau berjalan di area yang berpotensi terkontaminasi.
IDAI juga mengimbau penerapan etiket batuk dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti menutup mulut dan hidung dengan lengan bagian dalam saat batuk atau bersin, serta rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
Penggunaan masker disarankan terutama jika anak mengalami gejala infeksi saluran pernapasan atau berada di kerumunan, serta menghindari berbagi alat makan, minum, dan perlengkapan pribadi.
Terkait kesiapsiagaan menghadapi musim hujan dan bencana hidrometeorologi, IDAI mendorong orang tua dan sekolah untuk aktif berkomunikasi melalui grup informasi, melaporkan kondisi kesehatan anak, serta memperbarui data kontak darurat.
Anak juga perlu dibekali pemahaman mengenai prosedur evakuasi dan titik kumpul di sekolah, termasuk menyiapkan tas siaga bencana yang berisi jas hujan, makanan tahan lama, air minum, obat pribadi, pakaian ganti, senter, peluit, dan kontak darurat keluarga.
IDAI turut mendorong sekolah memastikan ketersediaan sarana cuci tangan, air bersih, serta toilet yang higienis, melakukan pembersihan dan disinfeksi rutin, serta bekerja sama dengan puskesmas setempat dalam pemantauan kesehatan warga sekolah.
Sementara itu, pemerintah daerah diharapkan mengoptimalkan penyediaan fasilitas kesehatan, memastikan lingkungan sekolah aman dari risiko banjir atau longsor, serta mengoordinasikan sistem peringatan dini. (rdr/ant)

















