PADANG, RADARSUMBAR.COM – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Atip Latipulhayat, meninjau pelaksanaan pembelajaran hari pertama pascabencana banjir bandang di SMAN 12 Padang, Sumatera Barat, Senin (5/1/2026).
Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan satuan pendidikan di wilayah terdampak bencana tetap dapat melaksanakan proses belajar mengajar, meskipun masih dalam kondisi keterbatasan sarana dan prasarana.
Atip mengungkapkan, berdasarkan data per 4 Januari 2026, tercatat sebanyak 4.470 satuan pendidikan di wilayah Sumatra terdampak bencana dengan tingkat kerusakan bervariasi, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat.
Provinsi Aceh menjadi wilayah terdampak terbesar dengan 2.756 sekolah atau satuan pendidikan, disusul Sumatra Utara sebanyak 1.213 satuan pendidikan dan Sumatera Barat sebanyak 501 sekolah.
“Di Aceh, sekitar 90 persen atau 2.468 sekolah sudah beroperasi, 18 sekolah masih menggunakan tenda, dan 288 sekolah dalam tahap pembersihan,” ujarnya.
Sementara itu di Sumatra Utara, 99,5 persen atau 1.208 sekolah telah kembali beroperasi, dengan 19 sekolah menggunakan tenda dan lima sekolah masih dalam proses pembersihan.
“Di Sumbar, dari laporan sementara, hampir 100 persen sekolah sudah melaksanakan pembelajaran pada hari pertama ini, meskipun sebagian masih dalam kondisi darurat,” kata Atip.
Ia menekankan bahwa kondisi darurat harus menjadi momentum untuk meningkatkan kreativitas dalam penyelenggaraan pendidikan. “Kesuksesan sesungguhnya adalah bagaimana kita mengelola keterbatasan menjadi sebuah peluang,” ujarnya.
Menurut Atip, Indonesia telah teruji menghadapi berbagai tantangan berat. Oleh karena itu, kondisi kedaruratan tidak boleh menjadi alasan untuk menghambat pencapaian tujuan pendidikan.
Untuk mempercepat pemulihan, Kemendikdasmen memberikan bantuan biaya pembersihan sekolah sebesar Rp5 juta hingga Rp50 juta per sekolah sesuai tingkat kerusakan.
Selain itu, Kemendikdasmen menyalurkan bantuan berupa 15.500 paket school kit, 78 unit tenda, 100 ruang kelas darurat, 90.000 eksemplar buku pelajaran, dukungan psikososial senilai Rp300 juta, serta Dana Operasional Pendidikan Darurat sebesar Rp11,29 miliar di Aceh.
Bagi guru dan tenaga kependidikan terdampak bencana, Kemendikdasmen memberikan tunjangan khusus kepada 16.467 guru dan tenaga kependidikan dengan total anggaran Rp32,9 miliar, yang akan disalurkan secara bertahap pada Januari dan Februari 2026.
Terkait pembelajaran di daerah bencana, Atip menyampaikan bahwa Kemendikdasmen telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran pada Satuan Pendidikan Terdampak Bencana.
Melalui kebijakan tersebut, satuan pendidikan tetap mengacu pada kurikulum nasional dengan penyesuaian minimum yang esensial, memprioritaskan dukungan psikososial, kesehatan dan keselamatan, mitigasi bencana, literasi, serta numerasi.
Dalam kesempatan itu, Atip juga berkomunikasi dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti yang tengah meninjau pelaksanaan pembelajaran di Aceh. Kemendikdasmen turut menyerahkan bantuan bagi sejumlah sekolah terdampak bencana di Kota Padang. (rdr/ant)





