LUBUKBASUNG, RADARSUMBAR.COM – Warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Muaro Pisang, Jorong Pasar Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, diliputi rasa takut akan kemungkinan terjadinya banjir bandang susulan.
“Saya takut tinggal di rumah karena banjir bandang susulan sering terjadi, baik saat hujan maupun cuaca panas,” kata Wita, warga Pasar Maninjau, Minggu 4/1/2026).
Ia mengungkapkan, sejak banjir bandang melanda wilayah tersebut, warga hampir tidak bisa tidur setiap malam. Rasa cemas semakin meningkat akibat bunyi gemuruh dari arah hulu sungai yang kerap terdengar, ditambah peristiwa longsor di perbukitan Jalan Kelok 25 pada Rabu (31/12).
Kondisi tersebut membuat seluruh warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Muaro Pisang memilih mengungsi ke mushala, rumah warga, dan tempat lainnya. Jumlah pengungsi pun meningkat dari sebelumnya 25 kepala keluarga menjadi 44 kepala keluarga.
“Di mushala tempat saya mengungsi, ada 44 kepala keluarga dengan jumlah ratusan orang,” ujarnya.
Wita mengaku telah mengungsi bersama suami dan anak-anaknya selama tujuh hari terakhir karena rumahnya berada sangat dekat dengan aliran sungai.
Sementara itu, Anggota DPRD Agam, Albert, menilai luapan Sungai Muaro Pisang merupakan persoalan serius yang harus segera ditangani karena berdampak langsung terhadap permukiman warga.
“Perlu kajian ilmiah terkait struktur tanah di hulu sungai, khususnya perbukitan di kawasan Salingka Danau Maninjau,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah hingga pemerintah pusat dapat mengambil langkah konkret untuk mencari solusi agar banjir bandang susulan tidak kembali terjadi.
“Semua pihak harus terlibat agar masyarakat bisa tinggal dengan aman dan nyaman di sepanjang aliran sungai,” ujarnya.
Sebelumnya, Bupati Agam Benni Warlis menyatakan penanganan banjir bandang di kawasan tersebut memerlukan kajian teknis sesuai keilmuan untuk mengetahui permasalahan di hulu sungai.
Menurutnya, penanganan harus melihat pergerakan material dari hulu hingga ke hilir. Untuk itu, Pemprov Sumatera Barat bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) V diminta melakukan peninjauan lapangan.
“Kita berharap ada solusi, apakah perlu dibangun pengendali air agar material tidak turun ke bawah dan merusak rumah warga,” katanya.
Ia menambahkan, tanpa penanganan menyeluruh, banjir bandang berpotensi terus terjadi baik saat hujan maupun tidak hujan. (rdr/ant)

















