LUBUKBASUNG, RADARSUMBAR.COM – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat melalui Resor Konservasi Wilayah II Maninjau menerima laporan interaksi negatif satwa liar yang diduga melibatkan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang memangsa ternak milik warga di Lubuk Anau, Jorong Batu Gadang, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Kamis (1/1).
Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar, Ade Putra, mengatakan pihaknya langsung menurunkan petugas ke lokasi setelah menerima laporan tersebut guna melakukan penanganan konflik satwa liar dengan manusia.
“Petugas Resor Konservasi Wilayah II Maninjau turun ke lokasi pada Jumat (2/1) siang,” kata Ade Putra di Lubuk Basung, Sabtu.
Ia menjelaskan, setibanya di lokasi petugas melakukan verifikasi lapangan dengan mengumpulkan keterangan dari pemilik ternak serta menelusuri jejak keberadaan harimau, seperti cakaran, kotoran, dan jejak kaki.
Selain itu, petugas juga memasang kamera jebak (camera trap) untuk mendapatkan visual satwa dilindungi tersebut serta melakukan pemantauan menggunakan drone termal di sekitar lokasi kejadian.
“Apabila keberadaan harimau terpantau melalui kamera jebak atau drone, maka akan dilakukan penghalauan. Opsi terakhir, tidak menutup kemungkinan dilakukan evakuasi,” ujarnya.
BKSDA Sumbar juga meningkatkan patroli rutin pada pagi, sore, dan malam hari di sekitar wilayah rawan konflik.
Ade Putra menambahkan, laporan interaksi negatif antara manusia dan satwa langka serta dilindungi ini merupakan yang pertama terjadi pada 2026.
Sebelumnya, BKSDA Sumbar telah menangani konflik harimau di wilayah Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, sejak Oktober hingga November 2025. Dalam kejadian tersebut, harimau memangsa ternak warga seperti anjing, angsa, dan ayam, bahkan sempat masuk ke pekarangan perkantoran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Koto Tabang.
“Satu ekor anak harimau sempat terkena jerat babi yang dipasang warga di lahan mereka di depan kantor BRIN pada Sabtu (22/11),” katanya.
Sementara itu, pemilik ternak, Zainal Arifin, mengatakan satu ekor kambing miliknya diketahui hilang dan diduga dimangsa harimau pada Kamis (1/1) pagi.
Menurutnya, peristiwa itu diketahui saat istrinya, Endang Susila Wati, hendak memberi pakan kambing di kandang yang berada di belakang rumah. Dari tujuh ekor kambing, satu ekor hilang dan kandang ditemukan dalam kondisi jebol dengan banyak jejak harimau di sekitar lokasi.
“Kandang kambing jebol dan di sekitar kandang banyak ditemukan jejak harimau,” katanya.
Karena khawatir ternaknya kembali dimangsa, Zainal mengaku menjual enam ekor kambing miliknya dengan harga murah sebesar Rp3,8 juta, dari harga normal sekitar Rp5 juta.
Ia juga menambahkan, pada akhir 2025 lalu, tiga ekor anjing miliknya hilang dan diduga dimangsa harimau. (rdr/ant)

















