AGAM, RADARSUMBAR.COM – Bupati Agam Benni Warlis menegaskan kondisi Sungai Muaro Pisang di Pasar Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam harus ditangani secara teknis dan menyeluruh, terutama di bagian hulu, guna mencegah banjir bandang susulan.
Benni Warlis mengatakan, penanganan tersebut membutuhkan kajian teknis dan keilmuan karena permasalahan utama berada di hulu sungai yang terdampak longsor. Hal itu telah disampaikan kepada Gubernur Sumatera Barat serta Balai Wilayah Sungai (BWS) V.
“Penanganan harus dilakukan secara teknis dan berbasis keilmuan, terutama di hulu sungai, agar banjir bandang tidak terulang,” kata Benni Warlis di Lubuk Basung, Sabtu (3/1/2026).
Menurutnya, selama ini penanganan yang dilakukan masih bersifat sementara dan fokus di bagian hilir sungai dengan membersihkan material longsor yang menyumbat aliran air.
Bahkan, satu unit alat berat sempat tertimbun material longsor saat proses pembersihan pada Rabu (31/12/2025) malam.
“Ini menunjukkan bahwa penanganan tidak bisa hanya dilakukan dari bawah. Harus dilihat dari hulu hingga perjalanan material ke hilir,” ujarnya.
Benni menambahkan, Pemkab Agam berharap Pemprov Sumbar dan BWS V dapat turun langsung ke lokasi untuk melakukan kajian teknis, termasuk kemungkinan pembangunan pengendali air agar material longsor tidak terbawa ke permukiman warga.
Ia mengakui, aliran Sungai Muaro Pisang mulai tersumbat setelah longsor terjadi di tebing jalan Kelok 28 dan Kelok 42 di Matur Mudik, Kecamatan Matur, pada akhir November 2025.
Longsor kembali terjadi di Kelok 25, Matua Mudik, Kecamatan Matur, pada Rabu (31/12/2025), yang menimbun sungai dan mengubah aliran air ke arah Simpang Maninjau.
Akibat kejadian tersebut, sebanyak 160 kepala keluarga atau 428 jiwa terdampak banjir bandang dan telah mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Selain itu, material banjir menimbun jalan provinsi penghubung Lubuk Basung–Bukittinggi sepanjang sekitar 30 meter dengan ketinggian satu meter, sehingga akses jalan terputus total.
“Saat ini alat berat masih melakukan pembersihan material. Warga masih merasa was-was dan takut jika banjir bandang kembali terjadi,” tutup Benni Warlis. (rdr/ant)

















