AGAM

Bencana di Agam, Kerugian Ditaksir Capai Rp4,2 Triliun

0
×

Bencana di Agam, Kerugian Ditaksir Capai Rp4,2 Triliun

Sebarkan artikel ini
Sejumlah anggota TNI membangun jembatan darurat di Nagari Malalak Selatan, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. (dok. Bakom RI)
Sejumlah anggota TNI membangun jembatan darurat di Nagari Malalak Selatan, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. (dok. Bakom RI)

LUBUKBASUNG, RADARSUMBAR.COM – Total kerusakan dan kerugian akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mencapai Rp4,20 triliun. Kerugian tersebut ditimbulkan oleh banjir bandang, banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung yang berdampak pada lima sektor utama.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Agam Roza Syafdefianti mengatakan nilai tersebut berasal dari sektor perumahan, infrastruktur, ekonomi, sosial, dan lintas sektor.

Advertisement

“Data ini berdasarkan hasil pendataan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait,” kata Roza di Lubuk Basung, Senin.

Ia merinci, sektor perumahan mencatat kerugian sebesar Rp1,59 triliun, yang terdiri atas kerusakan perumahan senilai Rp741,92 miliar dan prasarana lingkungan Rp855,60 miliar.

Sektor infrastruktur menjadi penyumbang kerugian terbesar dengan nilai mencapai Rp2,23 triliun, meliputi sektor transportasi Rp1,63 triliun, sumber daya air Rp368,46 miliar, serta air bersih dan sanitasi Rp234,24 miliar.

Sementara itu, sektor ekonomi mencatat kerugian Rp341,80 miliar, terdiri dari pertanian Rp189,51 miliar, perikanan Rp74,89 miliar, peternakan Rp31,69 miliar, perkebunan Rp23,30 miliar, perdagangan Rp20,60 miliar, dan pariwisata Rp1,78 miliar.

Adapun sektor sosial mengalami kerugian Rp20,76 miliar, yang meliputi sektor kesehatan Rp600 juta dan pendidikan Rp20,1 miliar. Selain itu, lintas sektor mencatat kerugian Rp6,49 miliar, terdiri dari sektor pemerintahan Rp3,99 miliar dan lingkungan hidup Rp2,5 miliar.

“Total kerugian tersebut terdiri dari nilai kerusakan dan kerugian ekonomi pascabencana,” ujarnya.

Roza menambahkan, bencana yang melanda Agam pada akhir November 2025 itu mengakibatkan 163 orang meninggal dunia, 38 orang dinyatakan hilang, dan dua orang masih menjalani perawatan.

Proses pencarian korban hilang secara resmi telah dihentikan pada Senin (22/12) berdasarkan surat dan persetujuan para ahli waris. Sementara itu, status tanggap darurat diperpanjang dari 23 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026 guna mematangkan persiapan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. (rdr/ant)