PADANG PARIAMAN

Dikritik Publik, DPRD Padang Pariaman Klaim Kunker ke Sleman Sudah Sesuai Situasi Daerah

0
×

Dikritik Publik, DPRD Padang Pariaman Klaim Kunker ke Sleman Sudah Sesuai Situasi Daerah

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Padang Pariaman, Sumbar kunjungan kerja ke Sleman, Yogyakarta. Antara/Facebook

PARITMALINTANG, RADARSUMBAR.COM – Ketua DPRD Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), Aprinaldi, menjelaskan bahwa kunjungan kerja (kunker) sejumlah anggota Komisi I dan IV ke Yogyakarta dilakukan karena daerah itu telah memasuki tahapan pemulihan pascabencana.

“Yang pergi itu Komisi I dan IV, tapi tidak semuanya, hanya beberapa orang,” kata Aprinaldi saat dikonfirmasi dari Sungai Garinggiang, Rabu malam.

Ia menyampaikan, para anggota DPRD yang berangkat itu sebelumnya aktif berada di lapangan selama masa cuaca ekstrem dan bencana, bahkan ikut menyalurkan bantuan kepada masyarakat. Mereka disebut berada bersama warga sejak 25 November hingga 1 Desember.

Aprinaldi menegaskan keberangkatan dilakukan setelah situasi di Padang Pariaman memasuki fase pemulihan pascabencana, meski para anggota tetap memantau kondisi daerah melalui koordinasi dengan berbagai pihak.

“Kalau jembatan putus, tentu mereka tidak bisa membangun,” ujarnya.

Ia menambahkan, anggota DPRD yang berangkat bukan berasal dari daerah pemilihan yang mengalami dampak besar akibat bencana. Sebagian besar anggota komisi lainnya masih berada di daerah, terutama yang dapilnya terdampak.

Diketahui, sejumlah anggota Komisi I dan IV DPRD Padang Pariaman melakukan kunker ke Sleman, Yogyakarta. Namun kunjungan tersebut menuai kritik publik karena dilakukan saat bencana masih menyisakan dampak besar bagi warga Sumbar, khususnya Padang Pariaman, yang saat ini sangat membutuhkan anggaran pemulihan.

Bencana banjir dan longsor yang terjadi telah menyebabkan kerusakan infrastruktur di Padang Pariaman. Sebanyak 17 jembatan rusak, empat di antaranya putus; 16 ruas jalan rusak, termasuk empat ruas yang terban; serta 24 unit irigasi rusak. Selain itu, lima sekolah, sembilan rumah ibadah, dan 47 rumah warga mengalami kerusakan, sementara 34 rumah lainnya hanyut.

Di sektor pertanian, 393,5 hektare lahan sawah dan 116,25 hektare tanaman jagung terdampak. Sebanyak 25 kelompok usaha perikanan juga merugi akibat tambak jebol dan terendam banjir. (rdr/ant)