PADANG PARIAMAN

10.575 Warga Padang Pariaman Terdampak Banjir, Satu Orang Dilaporkan Hilang

0
×

10.575 Warga Padang Pariaman Terdampak Banjir, Satu Orang Dilaporkan Hilang

Sebarkan artikel ini
Bupati Padang Pariaman, Sumbar John Kenedy Azis, Sekretaris Daerah Padang Pariaman Rudy Repenaldi Rilis bersama pihak terkait meninjau lokasi jalan terban di Kecamatan Enam Lingkung. (Antara/HO-Diskominfo Padang Pariaman)
Bupati Padang Pariaman, Sumbar John Kenedy Azis, Sekretaris Daerah Padang Pariaman Rudy Repenaldi Rilis bersama pihak terkait meninjau lokasi jalan terban di Kecamatan Enam Lingkung. (Antara/HO-Diskominfo Padang Pariaman)

PARITMALINTANG, RADARSUMBAR.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman, Sumatera Barat, mencatat sebanyak 10.575 warga dari 3.450 rumah terdampak banjir yang terjadi sejak Sabtu (22/11) hingga Kamis (27/11).

“Satu orang dinyatakan hilang setelah hanyut terbawa banjir saat Jembatan Koto Buruak di Nagari Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, ambruk pagi tadi,” kata Bupati Padang Pariaman melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Padang Pariaman, Zahirman, dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA, Kamis malam.

Ia menyebutkan bahwa 2.968 warga harus dievakuasi ke lokasi-lokasi yang telah disiapkan pemerintah. Pemkab juga mendirikan dapur umum serta membuka layanan kesehatan bagi warga terdampak.

Sebanyak 11 dari 17 kecamatan di Padang Pariaman terdampak banjir dalam sepekan terakhir, dengan wilayah terparah berada di Kecamatan Ulakan Tapakis.

Banjir disebabkan oleh meluapnya beberapa sungai, yakni Batang Anai, Batang Tapakih, dan Sungai Batang Ulakan, akibat tingginya curah hujan.

Bencana tersebut juga merusak sejumlah fasilitas dan permukiman, di antaranya:

  • 6 fasilitas ibadah terendam,
  • 1 fasilitas pendidikan terendam,
  • 17 rumah rusak,
  • 13 rumah hanyut,
  • 3 fasilitas pendidikan rusak,
  • serta merusak lahan pertanian warga.

Pemkab mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi.

Sebelumnya, BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau mengingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem di Sumatera Barat diperkirakan berlangsung hingga 29 November 2025.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau, Desindra Deddy Kurniawan, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh bibit siklon tropis 95B yang teridentifikasi sejak 21 November 2025 di Selat Malaka bagian timur perairan Aceh.

Fenomena tersebut memicu pertemuan massa udara di wilayah Sumbar, ditambah Indeks Dipole Samudra Hindia (IOD) bernilai negatif yang meningkatkan suplai uap air dan kelembapan, sehingga menyebabkan atmosfer menjadi lebih labil. (rdr/ant)