BERITA

Libur Nataru Mendekat, Kemenpar Imbau Wisatawan Rutin Cek Cuaca BMKG

1
×

Libur Nataru Mendekat, Kemenpar Imbau Wisatawan Rutin Cek Cuaca BMKG

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi cuaca ekstrem. (net)
Ilustrasi cuaca ekstrem. (net)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Kementerian Pariwisata mengimbau wisatawan untuk rutin memeriksa informasi perkiraan cuaca yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyusul adanya potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Tanah Air.

“Cuaca sedang ekstrem seperti ini, kami meminta pemerintah daerah dan wisatawan untuk selalu memperhatikan informasi yang disampaikan BMKG,” ujar Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Manajemen Krisis, Fadjar Hutomo, saat ditemui di Jakarta, Kamis.

Menjelang libur Natal dan Tahun Baru, Fadjar menjelaskan bahwa BMKG menyediakan informasi cuaca yang relevan dengan berbagai destinasi wisata. Informasi tersebut dapat membantu wisatawan mempersiapkan kebutuhan perjalanan dan mengantisipasi potensi risiko.

Wisatawan juga diminta menghindari destinasi yang berada di dekat aliran sungai. Fadjar mengingatkan bahwa hujan di daerah hulu dapat menyebabkan banjir meskipun di lokasi wisata tidak terjadi hujan.

Kementerian Pariwisata saat ini, melalui Kedeputian Destinasi dan Pengembangan Infrastruktur, sedang menyusun surat edaran khusus menyambut libur Nataru yang mencakup pedoman menghadapi cuaca ekstrem. Edaran tersebut berfungsi sebagai mitigasi risiko karena karakteristik cuaca setiap daerah berbeda-beda.

“Dalam surat edaran nanti ada risk assessment mengenai apa saja yang harus dilakukan. Risiko daerah pantai tentu berbeda dengan daerah pegunungan, dan seterusnya,” jelasnya.

Sebelumnya, BMKG menyatakan Indonesia telah memasuki puncak musim hujan yang berlangsung dari November 2025 hingga Februari 2026, dengan potensi peningkatan curah hujan tinggi serta ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan fase ini menjadi periode siaga bagi berbagai wilayah. Ia menjelaskan bahwa suhu muka laut yang lebih hangat dari rata-rata dan aktifnya monsun Asia menjadi pemicu utama tingginya intensitas hujan di Indonesia.

BMKG juga mengingatkan potensi terulangnya badai Seroja—yang pernah melanda Nusa Tenggara Timur pada April 2021—selama puncak musim hujan hingga triwulan pertama 2026. (rdr/ant)