SOLOK, RADARSUMBAR.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Solok, Sumatera Barat, memperkuat sistem pelaporan cepat kasus kematian ibu dan anak melalui sistem digital Maternal Perinatal Death Notification (MPDN).
Kepala Dinkes Kota Solok, Ardinal, menegaskan pentingnya pengelolaan data yang akurat dan berkesinambungan sebagai dasar perencanaan kebijakan kesehatan berbasis bukti.
“Upaya kita memperkuat sistem pencatatan dan pelaporan kematian ibu dan bayi. Melalui data yang valid, kita dapat merespons setiap kasus dengan cepat dan tepat,” ujar Ardinal di Solok, Senin (4/11).
Menurutnya, penguatan sistem MPDN diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan mempercepat penanganan setiap kasus kematian maternal dan perinatal.
MPDN merupakan aplikasi pelaporan kematian ibu dan bayi yang telah digunakan lebih dari 15 tahun di Indonesia. Sistem ini memanfaatkan teknologi informasi untuk pelaporan yang cepat, terstruktur, dan akurat, serta dilengkapi analisis statistik sederhana guna mempercepat pengambilan keputusan berbasis data.
Melalui MPDN, setiap kasus kematian maternal dapat dilaporkan sedini mungkin, termasuk pelaporan “kematian nol” bagi fasilitas kesehatan yang tidak memiliki kasus, agar seluruh wilayah tetap termonitor secara menyeluruh.
Dalam rangka peningkatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak, Dinkes Kota Solok juga menggelar Pertemuan Validasi Data Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) 2025 berbasis sistem digital MPDN. Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta, terdiri dari perwakilan rumah sakit, bidan praktik mandiri, penanggung jawab klaster puskesmas, dan petugas pustu.
Tujuannya adalah memperkuat validasi dan integritas data KIA, serta meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam pengelolaan informasi digital.
Dokter Spesialis Anak RS M. Natsir Solok, Fatmah Sindi, menekankan pentingnya pemanfaatan MPDN dalam mengevaluasi mekanisme rujukan ibu dan bayi.
“Pemanfaatan MPDN bukan hanya soal pelaporan, tetapi juga menjadi alat evaluasi kualitas layanan dan sistem rujukan antar fasilitas kesehatan,” katanya.
Ia menambahkan, data yang akurat dan terintegrasi merupakan kunci utama menekan angka kematian ibu dan bayi.
“Data bukan sekadar angka, tetapi dasar untuk menyelamatkan nyawa. Dengan informasi yang valid, kita bisa merancang kebijakan dan intervensi yang tepat sasaran,” ujarnya. (rdr/ant)






