PADANG, RADARSUMBAR.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau, Padang Pariaman, Sumatera Barat, menjelaskan bahwa suhu panas yang dirasakan masyarakat dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh dinamika atmosfer.
“Suhu panas yang terjadi selama beberapa hari terakhir karena pola dinamika atmosfer,” kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau, Desindra Deddy Kurniawan, di Padang, Minggu (2/11).
Menurut Deddy, dinamika atmosfer merupakan pola aliran udara yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor lokal, tetapi juga regional, salah satunya kemunculan siklon tropis atau bibit siklon di wilayah utara Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan potensi terbentuknya awan hujan di Sumatera Barat menjadi sangat kecil, bahkan bisa tidak terbentuk sama sekali.
“Selama beberapa hari terakhir, kondisi langit Sumbar sangat cerah dengan tutupan awan yang minim. Ketika awan sedikit atau tipis, paparan sinar matahari ke permukaan bumi akan lebih maksimal,” jelasnya.
Meski terasa menyengat, Deddy menegaskan suhu panas ini masih tergolong normal, dengan suhu maksimum selama lima hari terakhir hanya mencapai 32 derajat Celsius.
“Memang terasa lebih panas, tetapi pengukuran suhu maksimum absolut masih dalam kategori normal,” katanya.
BMKG mengimbau masyarakat agar mengurangi paparan langsung sinar matahari, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan pelindung diri seperti topi, kacamata hitam, tabir surya, serta memperbanyak minum air putih sangat disarankan.
Sementara itu, salah seorang warga Kota Padang, Icha (32), mengaku harus menyalakan pendingin udara (AC) bahkan di siang hari untuk mengurangi dampak suhu panas.
“Biasanya AC hanya saya nyalakan malam hari. Tapi sekarang siang pun harus dinyalakan karena panasnya luar biasa,” ujarnya. (rdr/ant)






