JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, SpA(K), mengingatkan para orang tua bahwa imunisasi merupakan kebutuhan dasar anak yang wajib dipenuhi untuk melindungi mereka dari penyakit berbahaya.
“Imunisasi adalah kebutuhan dasar anak yang wajib diberikan. Ini bermanfaat untuk melindungi dan mencegah anak dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi,” ujar Prof. Rini, Guru Besar FKUI sekaligus Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang dari RSCM Jakarta, Jumat.
Menurutnya, anak yang mendapatkan imunisasi lengkap sesuai usia—terutama hingga 2 tahun—akan memiliki perlindungan optimal terhadap berbagai penyakit dan komplikasinya.
Sebaliknya, anak yang tidak diimunisasi tidak memiliki kekebalan tubuh sehingga lebih rentan terhadap infeksi serius.
“Jika anak terkena penyakit, kondisi bisa menjadi berat bahkan berujung pada kematian,” kata Prof. Rini.
Ia mencontohkan, imunisasi campak pada usia 9 bulan dapat menimbulkan reaksi ringan seperti demam atau ruam yang merupakan bagian dari kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI). Namun, risiko tersebut jauh lebih ringan dibandingkan anak yang tidak diimunisasi campak dan berpotensi mengalami komplikasi berat seperti pneumonia atau radang otak (ensefalitis).
Prof. Rini menegaskan, keterlambatan imunisasi bukan alasan untuk berhenti.
“Tidak ada kata terlambat. Bila imunisasi sebelumnya tertunda, tetap bisa dilanjutkan tanpa perlu mengulang dari awal,” tegasnya.
Sebelumnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat, hingga 2025 baru empat provinsi yang mencapai cakupan imunisasi lengkap. Sebaliknya, 13 provinsi selama tiga tahun terakhir belum mencapai target minimal 90 persen.
Anggota Satgas Imunisasi IDAI, dr. Soedjatmiko, mengungkapkan rendahnya cakupan imunisasi ini memicu kejadian luar biasa (KLB) campak dan rubella di 31 provinsi dan 181 kabupaten, dengan lebih dari 2.000 kasus tercatat tahun ini.
“Setiap tahun sekitar 20–30 persen bayi dan balita Indonesia berisiko sakit berat, cacat, atau meninggal karena imunisasinya belum lengkap. Bahkan hampir satu juta bayi belum pernah diimunisasi sama sekali,” ujar dr. Miko.
Menurutnya, untuk memberikan perlindungan menyeluruh bagi anak-anak, minimal 90 persen anak harus mendapatkan imunisasi lengkap. (rdr/ant)






