SOLOK SELATAN

Pemkab Solok Selatan Gencarkan Mitigasi Bencana, Fokus pada Edukasi Warga

0
×

Pemkab Solok Selatan Gencarkan Mitigasi Bencana, Fokus pada Edukasi Warga

Sebarkan artikel ini
Bupati Solok Selatan, Khairunas. (Antara/Erik)
Bupati Solok Selatan, Khairunas. (Antara/Erik)

PADANG, RADARSUMBAR.COM – Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, terus menggencarkan edukasi mitigasi bencana gempa bumi guna menyelamatkan jiwa dan meminimalisasi kerugian akibat bencana. Langkah ini diambil karena wilayah tersebut dilalui jalur sesar aktif Suliti, yang berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 7,6.

“Solok Selatan berada di wilayah rawan karena adanya pertemuan lempeng tektonik dan sesar aktif yang melintas. Masyarakat harus senantiasa waspada dan siap siaga terhadap potensi bencana,” kata Bupati Solok Selatan, Khairunas, di Padang Aro, Selasa (14/10).

Ia menyampaikan, pengalaman dari berbagai bencana masa lalu menunjukkan bahwa mitigasi dan edukasi adalah kunci utama menyelamatkan jiwa dan menekan dampak kerugian. Pemerintah daerah, katanya, telah berkomitmen untuk mengintegrasikan program kebencanaan ke dalam setiap aspek pembangunan, serta memperkuat koordinasi antarinstansi dan masyarakat.

Anggota DPR RI, Zigo Rolanda, yang turut hadir dalam kegiatan ini, menyoroti pentingnya pendidikan kebencanaan sejak dini. Ia mendorong agar pengetahuan dasar tentang gempa dan kebencanaan dimasukkan dalam kurikulum sekolah, seperti yang dilakukan di Jepang.

“Anak-anak sejak SD sudah harus tahu cara menyelamatkan diri saat terjadi gempa. Ini bisa diterapkan di Solok Selatan, mengingat tingginya risiko bencana di daerah ini,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya perencanaan infrastruktur yang memperhitungkan potensi gempa untuk mengurangi risiko kerusakan.

Direktur Gempa dan Tsunami BMKG, Daryono, yang turut memberikan materi, menjelaskan bahwa Solok Selatan merupakan wilayah dengan karakter gempa “low frequency, high impact”. Artinya, gempa mungkin jarang terjadi, namun sekali terjadi dapat berdampak besar.

“Solok Selatan dikelilingi empat segmen sesar aktif, yaitu Suliti, Sianok, Sumani, dan Siulak. Berdasarkan catatan sejarah, segmen-segmen ini pernah memicu gempa besar seperti pada 1909 (M7,6), 1943 (M7,0), 1995 (M6,7), dan 2007 (M6,3),” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa yang mematikan bukan gempanya, tetapi bangunan yang tidak tahan gempa. Oleh karena itu, edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi sangat penting.

“Gempa tidak bisa diprediksi, tapi dampaknya bisa diminimalkan. Sekolah lapang seperti ini bertujuan mewujudkan konsep ‘zero victim’, masyarakat tahu cara menyelamatkan diri,” ujar Daryono. (rdr/ant)