PADANG, RADARSUMBAR.COM – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menekankan pentingnya memperkuat struktur bangunan rumah yang tidak tahan gempa sebagai bagian dari langkah kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di Indonesia.
“Yang perlu diingat dan diperkuat adalah jutaan rumah yang saat ini berdiri, namun belum memenuhi standar tahan gempa,” kata Suharyanto dalam sambutannya pada The 3rd International Conference on Disaster Mitigation and Management (ICIDMM) 2025 di Universitas Andalas, Padang, Senin.
Pernyataan itu disampaikan merujuk pada pengalaman gempa besar yang mengguncang Kota Padang pada 30 September 2009 silam. Saat itu, gempa bermagnitudo 7,6 menyebabkan kerusakan parah pada ribuan rumah warga.
“Tercatat sekitar 135 ribu rumah mengalami rusak berat dari total 300 ribu rumah terdampak. Sekitar 80 persen kerusakan itu disebabkan struktur bangunan yang tidak tahan gempa,” ujarnya.
Suharyanto menyebut, banyaknya bangunan yang roboh saat gempa terjadi umumnya disebabkan oleh tidak terpenuhinya standar konstruksi tahan gempa. Ia mengingatkan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk menjadikan hal ini sebagai perhatian serius.
“APBN dan APBD memang terbatas, namun penguatan struktur bangunan bisa dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan,” katanya.
Ia juga mencontohkan gempa Cianjur pada 2022 lalu yang meski berkekuatan relatif kecil—yakni magnitudo 5,6—namun berdampak besar, dengan sekitar 90 ribu rumah rusak, termasuk 37 persen di antaranya adalah bangunan sekolah.
“Sebagai perbandingan, di DKI Jakarta, bangunan di atas tujuh lantai umumnya sudah memenuhi standar tahan gempa. Tetapi bangunan di bawah itu banyak yang belum,” ungkapnya. (rdr/ant)






