PARIAMAN, RADARSUMBAR.COM – Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman, Sumatera Barat menyebutkan bahwa lonjakan harga cabai merah keriting dalam beberapa pekan terakhir merupakan dampak dari musim kemarau yang terjadi beberapa bulan sebelumnya.
“Tiga sampai lima bulan terakhir terjadi kemarau panjang. Banyak tanaman cabai petani yang gagal panen karena daun keriting dan tidak tumbuh normal,” ujar Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kota Pariaman, Alfadri, di Pariaman, Sabtu (27/9/2025).
Menurutnya, saat masa panen tiba, cuaca justru berubah menjadi musim hujan, sehingga hasil panen menurun drastis. Sementara itu, permintaan cabai tetap tinggi, yang memicu lonjakan harga.
Ia menambahkan bahwa kondisi serupa juga terjadi di banyak kabupaten/kota lain di Sumbar, sehingga pasokan cabai dari daerah lain pun turut berkurang.
Akibatnya, pada pertengahan September, harga cabai merah keriting di Pariaman sempat menyentuh Rp80 ribu per kilogram. Meskipun kini mulai turun menjadi Rp71 ribu per kilogram (per Jumat, 26/9), harga tersebut masih tergolong tinggi.
“Cabai dari luar provinsi juga terbatas, padahal biasanya bisa membantu menstabilkan harga di pasaran,” jelas Alfadri.
Untuk meredam gejolak harga, Pemkot Pariaman menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) pada Jumat pagi (26/9), bekerja sama dengan Bulog dan petani lokal. Tujuannya, untuk membantu masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga di bawah pasar sekaligus menekan inflasi.
Namun, akibat turunnya produksi, pasokan cabai dalam GPM juga sangat terbatas.
“Dalam GPM kemarin, hanya tersedia 10 kilogram cabai merah keriting dari petani lokal. Produksi memang sedang rendah,” tambahnya.
Melalui GPM, pemerintah berharap dapat memutus mata rantai distribusi dan menekan peran tengkulak yang selama ini menjadi faktor kenaikan harga di tingkat konsumen. (rdr/ant)






