PADANG, RADARSUMBAR.COM – Layanan bus Trans Padang menuai banyak kritik dari penumpang maupun warganet. Alih-alih menjadi layanan publik, Trans Padang justru membuat emosi penggunanya.
Aturan baru yang mewajibkan bus berhenti di setiap halte dan pramugara mengambil foto sebagai bukti pelayanan justru dianggap tidak efisien, menambah beban petugas serta membuat penumpang telat sampai tujuan.
Sejumlah komentar bernada protes membanjiri unggahan akun resmi Instagram @official_transpadang.psm.
Akun @alilkul menulis, “Telat telat. Jangan karena laporan beberapa orang yg ditinggal trans malah ngerugiin ratusan konsumen. Belajar lagi sana manajemen pemasaran.”
Akun @m.a.bowo mengeluhkan, “berhenti di halte kosong neh. Mana pagi jam kerja. Rencana bakalan cepat eh malah telat.”
Akun @mikoyolisaputra menyoroti masalah teknis, “Knalpot oto bus Trans Padang rute Lubuk Buayo tolong di-service, busuak dan hitam asok nyo, mengganggu pengguna jalan lain.”
Akun @monamaresa menilai aturan baru tidak efisien, “Mengambil foto setiap halte sangat sangat tidak efisien, harusnya tidak telat menjadi telat.”
Senada, akun @vrtrlch.nt menulis, “Peraturan baru mu jelek banget Dinas Perhubungan, buang2 waktu dan buat penumpang telat.”
Akun @bllntrr juga mengkritik, “Tolong peraturan baru nya ditinjau kembali, mengambil foto di setiap halte cuma buang2 waktu dan penumpang yg lain jadi masuk terus dan membuat bus jadi sangat padat.”
Akun @cattowru menegaskan, “Aturan baru aneh. Tolong bikin aturan yang lebih efisien, perhatikan juga kebutuhan konsumen. Saya harusnya gak telat, jadinya telat. Padahal berangkat tetap pagi.”
Akun @nandasykra_ menambahkan, “Peraturan barunya kayaknya perlu direvisi deh. Foto selfie di setiap halte rasanya buang2 waktu saja. Bus ada kapasitasnya, siapa tau disaat pelapor melapor bus sudah kelebihan kapasitas, makanya bus lanjut. Mendengarkan keluhan satu orang jadi imbas ke banyak orang. Sudah dari pagi biar gak telat jadi telat juga. Dan nanti jadi serba salah pramugaranya, kasihan, nanti masyarakat yang tidak tau berfikir pramugaranya dikira main hape.”
Akun @bublegum6605 mengkritik pelayanan pramugara, “Tolong banget nih untuk kakak-kakak manis yang di rute ke Unand. Kalau ada masalah pribadi jangan sampai dibawa pas saat kerja dong. Kami tau kakak capek, tapi sepertinya kita juga sama-sama capek, jadi tolong lah yah senyum dikit kak jangan berkerut aja tu muka lihat orang. Kami rasa ndak kakak aja yang capek, yang lain juga tapi masih bisa nerapin 3S nya kakak.”
Selain komentar warganet, penumpang bernama Felda juga menyampaikan langsung pengalamannya menggunakan Trans Padang koridor 1 jalur Pasar Raya–Khatib–Tabing–Lubuk Buaya–Batas Kota. Menurutnya, kenyamanan penumpang jauh dari harapan.
“Busnya panas, penumpangnya melebihi kapasitas yang tertulis di kaca mobil, keneknya ada beberapa yang julid, pembayaran pakai QR kadang susah,” kata Felda.
Lakukan Evaluasi Segera
Menanggapi banyaknya keluhan tersebut, Wakil Ketua DPRD Padang Mastilizal Aye meminta Dinas Perhubungan segera melakukan evaluasi.
“Koridor 1 itu wajib diremajakan, sementara koridor yang lain juga harus meningkatkan layanan. Kasihan penumpang. Ingat, Trans Padang itu disiapkan untuk melayani masyarakat.”
“Sopir dan pramugara juga harus memperbaiki. Perlu ada komunikasi dengan masing-masing koridor. Dan masyarakat juga harus memberi laporan jika menemukan hal yang janggal,” ujarnya.
Mastilizal Aye menegaskan, kebijakan yang diterapkan saat ini perlu dikaji ulang agar benar-benar memberikan solusi, bukan menambah persoalan bagi penumpang maupun petugas di lapangan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Padang Ances Kurniawan menegaskan keluhan penumpang akan dijadikan bahan evaluasi.
“Salah satu perbaikan ke depan adalah pengaduan pelanggan ini jadi koreksi kita. Akan kita perbaiki, jadi catatan. Masalah halte itu BTS, SOP.”
“Masalah pelayanan pramugara ini akan jadi bahan evaluasi kepada PSM. Kendaraan itu sering berasap, kebut-kebutan, tidak optimal. Ada masalah, service tidak tepat waktu,” katanya.
Ances menambahkan, operator PSM sebagai perpanjangan tangan Pemko harus lebih profesional. “Mereka itu wajahnya Pemko. Harus menerima kritik, jadikan kritik untuk semangat ke depan.”
“Selain itu, kita juga akan mengevaluasi kinerja PSM. Secara, pengelolaan Trans Padang itu subsidi, murni dari APBD, jadi tak perlu memikirkan PAD, cukup memberikan layanan terbaik untuk masyarakat,” tutupnya. (rdr)






