SIMPANGEMPAT, RADARSUMBAR.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, terus memperkuat peran kelompok siaga bencana di tingkat nagari (desa) untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana.
“Kelompok siaga bencana ini merupakan perpanjangan tangan BPBD dalam memberikan edukasi kebencanaan langsung ke masyarakat,” ujar Sekretaris BPBD Pasaman Barat, Gustrizal, di Simpang Empat, Minggu (7/9).
Pasaman Barat merupakan wilayah yang tergolong rawan bencana alam karena karakteristik geografisnya yang terdiri dari pegunungan, dataran rendah, perbukitan, dan kawasan pesisir pantai.
“Jenis bencana yang kerap terjadi antara lain banjir, longsor, gempa bumi, abrasi, angin kencang, badai, hingga angin puting beliung,” jelas Gustrizal.
BPBD mencatat, sepanjang periode Januari hingga Agustus 2025, total kerugian akibat bencana alam dan nonalam di wilayah itu mencapai lebih dari Rp2 miliar. Dari kejadian tersebut, dilaporkan 4 orang meninggal dunia, 7 orang luka-luka, 19 orang berhasil diselamatkan.
Bencana yang terjadi selama periode itu antara lain kebakaran 7 kasus, kapal tenggelam karena badai 1 kasus, orang tenggelam/terseret ombak 1 kasus, angin kencang/pohon tumbang 9 kasus, serangan buaya 2 kasus, serangan hewan buas lainnya 2 kasus, dan badai 2 kasus
Dampaknya meliputi 8 rumah rusak berat, 1 rumah rusak sedang, 1 rumah rusak ringan, 2 ruas jalan rusak, dan 3 areal perkebunan terdampak.
Menurut Gustrizal, fokus pemantauan saat ini adalah masyarakat yang bermukim di dekat aliran sungai, terutama ketika cuaca ekstrem melanda.
“Personel dan peralatan terus disiagakan. Kami juga berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Jika terjadi banjir, tim segera turun ke lapangan untuk membantu,” ujarnya. (rdr/ant)






