SAMARINDA, RADARSUMBAR.COM – Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menyampaikan permintaan maaf atas dugaan intimidasi yang dilakukan oleh asisten pribadinya (aspri) terhadap jurnalis saat dua kegiatan berbeda di Kota Samarinda.
“Pertama, saya minta maaf karena hal itu di luar kontrol saya. Kejadian tersebut spontan,” ujar Rudy saat konferensi pers di Kantor Gubernur, Rabu (24/7).
Ia menyesalkan insiden tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada niat sedikit pun untuk membatasi kerja jurnalis. Rudy juga menyatakan komitmennya menjaga kebebasan pers di Kaltim.
“Komunikasi kami dengan rekan-rekan pers selama ini berjalan baik. Tidak ada jarak. Justru kemitraan ini penting dalam menyampaikan informasi positif kepada masyarakat,” ujarnya.
Rudy berharap kejadian ini menjadi yang terakhir dan meminta semua pihak mempererat hubungan baik antara pemerintah dan insan pers.
Dugaan intimidasi terhadap jurnalis terjadi dalam dua peristiwa, pertama, pada Sabtu malam, 19 Juli 2025, usai Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kaltim. Saat Rudy Mas’ud sedang diwawancarai, seorang pria berbadan tegap yang diduga ajudan gubernur menghampiri jurnalis dan meminta wawancara dihentikan secara intimidatif, bahkan diduga menyentuh fisik salah satu wartawan.
Kedua, pada Senin, 21 Juli 2025, saat sesi doorstop. Seorang perempuan yang diduga asisten pribadi Rudy menunjukkan sikap verbal intimidatif dengan menandai jurnalis tertentu disertai gestur melotot dan suara tinggi. Usai sesi, dua ajudan mendekati jurnalis tersebut dan meminta identitasnya.
Peristiwa ini sempat viral di media sosial dan mendapat sorotan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Samarinda serta Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim, yang mengecam tindakan intimidatif terhadap wartawan saat menjalankan tugas jurnalistik. (rdr/ant)






