BERITA

Psikolog: Waspadai Anak yang Menjauh dari Keluarga, Bisa jadi Tanda Terlibat Kejahatan

0
×

Psikolog: Waspadai Anak yang Menjauh dari Keluarga, Bisa jadi Tanda Terlibat Kejahatan

Sebarkan artikel ini
Guru menyampaikan materi pembelajaran menggunakan smart board atau papan tulis interaktif kepada siswa saat kegiatan belajar mengajar di SMKN 3 Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (27/5/2025). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/bar (ANTARA FOTO/AULIYA RAHMAN)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., mengingatkan para orang tua untuk mewaspadai tanda-tanda anak berpotensi terjerumus dalam tindak kejahatan, salah satunya ketika anak mulai menjauh dari keluarga dan bergaul dengan kelompok berisiko.

“Biasanya yang paling menonjol adalah mereka mulai sulit melakukan kebersamaan dan komunikasi dengan keluarga, terutama orang tua,” kata Novi kepada ANTARA di Jakarta, Selasa (22/7).

Menurut Novi, anak yang rentan terlibat kejahatan juga menunjukkan kesulitan fokus membangun aktivitas positif yang bermanfaat dan berkelanjutan. Situasi ini bisa dipengaruhi oleh tingginya hormon kortisol (hormon stres) yang menekan fungsi prefrontal cortex, bagian otak yang mengatur logika dan pengambilan keputusan.

Ia menjelaskan, kekerasan umumnya dipicu oleh aktivasi otak reptil, khususnya amygdala, yang merespons ancaman dengan reaksi primitif: melawan, diam, atau melarikan diri.

“Ketika anak dipancing emosinya atau mengalami tekanan, mereka merespons dengan otak reptil, bukan dengan otak nalarnya,” jelas Novi.

Contohnya bisa dilihat pada kasus tawuran remaja, di mana anak sebenarnya tahu bahwa kekerasan itu salah, namun karena fungsi nalar lemah, mereka tidak bisa mengukur risiko atau konsekuensinya.

Novi menyarankan agar anak yang sudah terlibat perilaku menyimpang diberi stimulus aktivitas fisik teratur, seperti olahraga. Aktivitas tersebut membantu mengeluarkan tekanan dan stres dari tubuh.

“Dengan banyak aktivitas fisik dan sosial, kemudian diseimbangkan dengan dialog bersama orang-orang terdekatnya,” ujarnya.

Dialog yang hangat dan rutin dengan keluarga, lanjut Novi, dapat menjadi langkah preventif untuk membangun kekuatan otak nalar anak. Ini memungkinkan anak merespons tekanan dengan logika, bukan emosi semata. (rdr/ant)